Konten Media Partner

Dinkes Gunungkidul Imbau Warga Hindari Kandang Sapi Terpapar Antraks

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty, Senin (13/1/2020). Foto: Erfanto
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty, Senin (13/1/2020). Foto: Erfanto

Sebanyak 64 warga Kecamatan Semanu Gunungkidul diduga terpapar virus antraks. Hal ini menambah panjang jumlah warga Gunungkidul yang suspect atau diduga terpapar virus antraks. Karena sebelumnya, ada 540 warga Kecamatan Ponjong yang diberi antibiotik karena dugaan yang sama.

Namun demikian, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul belum mengambil sampel darah bagi 64 warga Semanu tersebut. Alasannya karena mereka tidak memiliki keluhan terkait dengan kondisi kesehatannya.

"Mereka tidak ada keluhan, tetapi ada kontak langsung dengan sapi yang mati mendadak diduga terpapar virus Anthraks dari Ponjong," tutur Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty, Senin (13/1)

Dewi mengatakan 64 warga Kecamatan Semanu tersebut berasal dari 3 desa masing-masing Pelem, Ploso dan Semuluh Kidul. Ke-64 warga Kecamatan Semanu tersebut tidak ada keluhan berkaitan dengan kondisi kesehatan mereka.

Menurut Dewi, meski tidak ada keluhan berkaitan dengan kondisi kesehatan mereka, tetapi karena mereka mengkonsumsi daging sapi yang mendadak mati dari Kecamatan Ponjong maka mereka akan mendapat antibiotik selama 7-10 hari ke depan.

"Kami tidak ingin mengambil resiko lebih besar dengan tidak melakukan tindakan. Begitu tahu dia makan sapi itu ya kita langsung berikan antibiotik. SOP-nya memang seperti itu,"ujarnya.

Pihaknya hanya akan mengikuti perkembangan kesehatan 64 warga Kecamatan Semanu tersebut dan belum akan melakukan tindakan apa pun termasuk mengambil sampel darah mereka.

Untuk saat ini, ia meminta kepada warga menghindari kandang ataupun tempat penyembelihan hewan ternak yang mati mendadak terpapar virus Anthraks ini. Dirinya tidak melarang warga mendekat ataupun mendatangi kedua lokasi tersebut. Namun hanya meminta ketika berkunjung ke kedua tempat tersebut harus mengenakan alat pelindung diri (APD) agar tidak terpapar.

"Pakai sepatu Boot, sarung tangan dari karet dan pelindung lainnya. Kalau kita ke sana pun APD-nya lengkap, kayak pakaian astronot itu,"ujarnya.

Dewi mengatakan, pihaknya masih mampu menghadapi hal tersebut termasuk dari sisi anggaran. Di mana ia menandaskan belum perlu mengambil atau menambah anggaran terutama untuk pemberian antibiotik bagi warga yang diduga terpapar virus antraks tersebut.

"Obat antibiotik yang kami berikan harganya cukup terjangkau. Kita masih ada persediaan yang cukup untuk antibiotik ini,"tambahnya.

Terkait dengan warga yang masih dirawat di RSUD Wonosari, Dewi mengaku belum mengetahui perkembangannya karena memang belum menerima laporan. Namun jika warga yang diduga terpapar virus antraks keadaannya semakin memburuk ataupun bahkan meninggal dunia maka pihaknya akan segera menerima laporan dari Rumah Sakit.