News
·
15 Desember 2019 12:38

Dispar DIY Siapkan Toilet Berstandar Internasional di Kampung Wisata

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Dispar DIY Siapkan Toilet Berstandar Internasional di Kampung Wisata  (256938)
Salah satu toilet berbasi aplikasi dari Jamban yang dibangun di obyek wisata Taman Sari. Foto: atx.
Dinas Pariwisata DIY mulai serius menggarap toilet berstandar internasional di sejumlah kampung wisata untuk memberi kenyamanan wisatawan.
ADVERTISEMENT
Salah satu kampung wisata yang mulai digarap toiletnya itu yakni kampung batik Taman Sari Kota Yogyakarta.
"Penerapan toilet berstandar internasional sudah menjadi kebutuhan utama di kawasan destinasi, tak boleh diabaikan," ujar Kepala Bagian Umum Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, Rahmat Suabadi usai meresmikan toilet yang berbasis aplikasi Jamban di kampung wisata Taman Sari Yogyakarta, Minggu (15/12/2019).
Rahmat mengatakan toilet standar internasional yang dimaksud setidaknya sudah menggunakan closet duduk bukan jongkok, kering, wangi, serta dilengkapi pendukung seperti tisu, wastafel, shower, dan lainnya.
Rahmat mengatakan sejumlah kasus wisatawan mancanegara yang kecewa dan tak nyaman saat hendak menggunakan toilet di area destinasi Yogya telah menjadi perhatian Dinas Pariwisata beberapa tahun terakhir. Sebab pengelolaan biasanya masih ditangani swadaya masyarakat dengan anggaran seadanya.
ADVERTISEMENT
Sedangkan di kampung wisata Taman Sari yang masih masuk area cagar budaya dalam kompleks Keraton Yogya, Dinas Pariwisata bersama Keraton Yogya menggandeng penyedia operator aplikasi Jamban untuk menggarap sejumlah toilet yang ada di tengah pemukiman penduduk.
Di kampung Taman Sari, Rahmat menuturkan tahap pertama ada dua toilet yang dibangun menggandeng operator aplikasi Jamban.
UntukTaman Sari, ujar Rahmat, pihaknya menggandeng operator aplikasi Jamban karena ingin toilet yang ada tak sekedar berstandar internasional tapi juga didukung teknologi.
Toilet di tengah kampung Taman Sari itu meski hanya berukuran tak lebih dari 2 x 2 meter dinilai sudah memenuhi standar internasional. Selain kering dan wangi, di dalam toilet yang bersebelahan dengan sanggar batik Kalpika Taman Sari tersebut menyediakan closet duduk, wastafel, jet shower, eco washer, sanitizer, exhaust hingga panel LCD yang menampilkan iklan seputar produksi kerajinan penduduk di Taman Sari.
ADVERTISEMENT
"Secara bertahap, kami akan tata toilet di Taman Sari ini agar berstandar internasional dan nyaman bagi wisatawan," ujarnya.
Customer Service Officer Jamban, Anggie Ariningsih mengatakan toilet yang digarap selain menerapkan standar internasional juga sudah mengadopsi layanan berbasis teknologi.
"Toilet ini sudah menerapkan sistem pembayaran cashless bagi pengguna dan letak toilet toilet itu dapat dilacak mudah keberadaannya lewat aplikasi," ujar Anggie.
Anggie mengatakan toilet Jamban saat ini sudah ada sedikitnya 10 unit di Yogyakarta. Tersebar di tempat wisata maupun fasilitas umum seperti stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Sekarang baru ada di tempat wisata Tamansari dan di salah satu SPBU Kulon Progo jalur masuk ke Yogyakarta,” katanya.
Toilet Jamban itu memiliki berbagai fasilitas seperti LCD, akses internet, dan musik. Untuk sistem pembayaran dalam memakainya pun dengan sentuhan teknologi. Yakni dengan aplikasi bernama Jamban yang dapat diunduh di Playstore pada handphone berbasis android.
ADVERTISEMENT
Untuk membayarnya, membeli koin terlebih dahulu di Go-Pay antara Rp 3.000 sampai Rp 4.000 satu koin. Satu koin bisa digunakan untuk satu kali. "Setelah membayar ada pin untuk membuka pintu toilet,” katanya.
Ketua RW 09 Kampung Taman Sari Kecamatan Keraton Kota Yogyakarta, Sutantyo Tri Harso, mengatakan total di obyek wisata Taman Sari hanya ada sekitar 13 titik toilet umum di mana sebagian besar menggunakan toilet warga setempat yang disewakan.
Sutantyo menuturkan dengan pengelolaan seadanya selama ini toilet toilet yang ada memang butuh pembenahan menyeluruh agar sesuai standar yang diharapkan. Ia sering menemui turis manca negara yang batal menggunakan toilet yang ada ketika menemui sarana yang disediakan tak memenuhi standar mereka.
ADVERTISEMENT
"Padahal kunjungan wisatawan dalam sehari pas rame itu bisa 2000 orang lebih, nah kalau separonya mau kencing, antrinya juga jadi lama dengan jumlah toilet yang terbatas itu, " ujar Sutantyo. (atx)