Konten Media Partner

Electrifying Agriculture Jadi Upaya Tingkatkan Produktivitas Petani di Jogja

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi listrik yang hadir di tengah-tengah lahan pertanian. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi listrik yang hadir di tengah-tengah lahan pertanian. Foto: istimewa

Listrik seolah menjadi kebutuhan primer masyarakat di tengah pandemi corona. Hal ini termasuk untuk dunia pertanian di Yogyakarta. Untuk mendorong produktivitas pertanian di Yogyakarta, PLN mendorong program Electrifying Agriculture.

“Ini sama dengan program listrikisasi, yang sebenarnya didesain tidak hanya untuk bidang pertanian, tapi juga perkebunan, perikanan dan sektor agrikultur lainnya. Ini bisa menciptakan efisiensi dalam waktu maupun biaya,” ungkap Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero), dalam keterangan yang diterima, Rabu (27/10/2021).

Program ini menjadi komitmen PLN untuk tekan dekarbonisasi dan mengajak warga Jogja untuk beralih dari penggunaan diesel menjadi listrik.

Berdasarkan testimoni para petani, ia mengungkapkan bahwa petani bisa hemat 80 persen dari segi biaya dan waktu. Artinya, listrik menjadi salah satu hal pokok yang membantu mereka berproduksi dan menghasilkan tambahan perekonomian.

"Sampai saat ini, listrik memang masih pakai batu bara sebagai bahan bakar. Tetapi, paling tidak, transformasi ini adalah jembatan yang penting agar petani bisa beralih dari solar ke listrik,” paparnya

M. Irwansyah Putra, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jateng dan DIY menambahkan, daya listrik di Yogyakarta tidak perlu diragukan lagi. Ia merinci, DIY memiliki daya mampu 1.560 MW, beban puncak 448 MW dan cadangan hingga 1.112 MW.

“Program Electrifying Agriculture ini merupakan salah satu semangat transformasi PLN di pilar Innovative dan Customer Focus, dalam meningkatkan pelayanan listrik yang lebih mudah, terjangkau, dan andal bagi kalangan di sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan,” ungkap Irwan.

Webinar Program Electrifying Agriculture untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Yogyakarta. Foto: istimewa

Adanya program listrikisasi di area pertanian itu memang dibutuhkan masyarakat. Dia menjelaskan, petani bisa hemat biaya produksi hingga 50-60 persen. Ada juga efisiensi biaya operasional karena tidak perlu membeli genset, oli, dan biaya perbaikan.

“Ke depan, saya yakin, petani ini akan terus meminta tolong kepada PLN agar areanya juga dipasang listrik. Dengan begitu, produktivitas usaha meningkat, juga pendapatannya. Yang pasti, listrikisasi ini juga ramah lingkungan,” ungkap Sugeng Purwanto, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY.

GKR Bendara selaku Ketua Indonesian Council for Small Business (ICSB) DIY, memprediksi, petani akan merasa adanya efisiensi biaya tatkala sedang memanen hasil panennya setelah sawahnya sudah dialiri listrik.

“Yang biasanya beli solar Rp85 ribu, sekarang mereka bisa menggunakan listrik yang lebih murah daripada solar. Pasti akan terasa bedanya,” terangnya.