Fashion On The Street Prawirotaman Jogja Tuai Perhatian Wisatawan
ยทwaktu baca 3 menit

Animo masyarakat hingga wisatawan mancanegara yang berada di kawasan Prawirotaman Yogyakarta cukup tinggi untuk menyaksikan gelaran Fashion On the Street Prawirotaman yang digelar oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.
Ajang unjuk fesyen yang mengambil lokasi di kedua sisi jalan itu diikuti 70 desainer untuk menampilkan karya terbaik bertema wastra batik dengan kemasan kekinian di panggung kampung wisata internasional Jogja itu.
Project Officer Prawirotaman Fashion On The Street, Lia Mustafa mengatakan kegiatan itu sudah digelar sejak 2013 dengan tujuan mengangkat karya anak-anak muda di Prawirotaman.
Namun berjalannya waktu banyak insan kreatif yang ingin ikut berkarya hingga berkembang lebih besar.
"Ini karya anak muda, kami menekankan untuk lebih kenal wastra khususnya Yogyakarta. Kami konsisten kenalkan wastra terutama batik. Banyak hal yang akan dikreasikan dari batik nanti, pastinya seru. Harapannya acara ini membawa dampak positif bagi masyarakat, dan event ini bisa lebih besar lagi," kata Project Officer Prawirotaman Fashion On The Street, Lia Mustafa, Sabtu (24/8/2024), malam.
Lia menjelaskan spirit dan tujuan FOS Prawirotaman tidak hanya menampilkan pagelaran mode dan trend semata, tetapi juga menjadi panggung ekspresi bagi generasi millenial dalam berkolaborasi untuk menciptakan perubahan positif.
Dalam perhelatan kali ini, tak hanya desainer lokal saja tetapi keterlibatan desainer mancanegara dari negara bagian Victoria, Australia juga semakin meramaikan FOS Prawirotaman itu.
Mereka adalah Josh Deane, Nikki Edgar dan Zhao Canwen.
"Ini jadi bukti solidaritas dalam mencapai tujuan bersama," ucap dia.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Wahyu Hendratmoko menjelaskan, Festival Prawirotaman menjadi agenda tahunan untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional.
Selain itu juga sebagai upaya untuk mengenalkan potensi yang dimiliki Kota Yogyakarta yang dalam hal ini fesyen guna mendukung terwujudnya Jogja sebagai pusat fashion dunia.
"Kami berharap Festival Prawirotaman 2024 bisa menjadi contoh integrasi pemberdayaan masyarakat dengan potensi lokal yang dimiliki. Sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, serta memperkuat daya tarik Prawirotaman sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan," ungkap Wahyu.
Salah satu desainer Zhao Canwen asal China yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral bidang fesyen di Kota Melbourne, Victoria Australia, mengatakan gelaran Fashion on The Street menjadi cara baru untuk menampilkan ragam busana dalam dunia fesyen.
Apalagi dipusatkan di jalan sehingga membuat lebih banyak orang untuk menyaksikan.
"Ini menjadi hal baru dan sangat menyenangkan bagi saya, menjadi cara yang menarik untuk dikembangkan dalam dunia peragaan busana. Pastinya hal seperti ini harus terus diadakan dan dikembangkan ke depannya," kata dia.
Sementara desianer Zahirah Ayya mengaku baru pertama kali terlibat dalam FOS Prawirotaman. Pada kesempatan ini, Ayya menampilkan total enam desain hasil karyanya.
Ayya mengaku sangat antusias dengan gelaran FOS ini, karena selain bisa menjadi wadah penyaluran karyanya. Dia juga berharap akan ada multiplier effect yang terjadi. Salah satunya adalah aspek ekonomi.
"Kurang lebih persiapannya tiga bulan membersamai gelaran ini. Tapi yang benar-benar intens itu dua minggu terakhir," imbuhnya.
Salah satu wisatawan mancanegara, Audrey yang ikut menyaksikan gelaran FOS Prawirotaman mengaku cukup takjub dengan busana yang ditampilkan. Pasalnya model yang ditampilkan betul-betul mencerminkan tren anak muda saat ini.
"Ini karya yang luar biasa, saya cukup terpukau," pungkasnya.
(M Wulan)
