News
·
7 November 2020 12:18

Film Daya, Cerita Kerinduan Jogja dan Empati di Masa Pandemi

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Film Daya, Cerita Kerinduan Jogja dan Empati di Masa Pandemi (379742)
searchPerbesar
Pemain Film Daya. Foto: Birgitta/Tugu Jogja
Sejak adanya pandemi virus corona, pariwisata menjadi salah satu lini yang terdampak di Jogja. Wisatawan tak sebebas dulu untuk pergi berwisata, alhasil banyak juga yang hanya memilih berdiam diri di rumah padahal sudah merasa kerinduan kuat untuk menjelajah Jogja.
ADVERTISEMENT
Menangkap hal tersebut, dibuatlah film yang mengobati kerinduan masyarakat sekaligus menumbuhkan pesan tersendiri.
Produser film Daya, Yetti Martanti mengatakan garapan film kali ini tak hanya sebatas bentuk promosi pariwisata Jogja. Namun lebih dari itu, ia mengatakan bahwa film dibuat untuk mengobati kerinduan masyarakat yang belakangan tak bisa berwisata semasa pandemi ini.
"Kita ingin promosi pariwisata dalam bentuk yang berbeda. Karena kondisi seperti ini (pandemi COVID-19) dibuat dalam bentuk film,"ujar Yetty pada Jumat (6/11/2020).
"Kita juga pingin menunjukkan bagaimana masyarakat jogja ini menghadapi masa pandemi ini," imbuh dia.
Film Daya, Cerita Kerinduan Jogja dan Empati di Masa Pandemi (379743)
searchPerbesar
Jajaran Pemain Film Daya saat Press Conference. Foto: Birgitta/Tugu Jogja
Tapi tak seluruh tempat wisata di Jogja diekplor dalam film ini. Hanya ada beberapa spot wisata yang tampil.
"Pemilihan lokasi wisata untuk destinasi mana saja yang sudah bisa dikunjungi dan yang sudah siap. Kalau ditampilkan spot yang belum menerapkan protokol kesehatan gimana? kalau datang malah ternyata belum ada protokol kesehatan. Jangan sampai kontradiktif," papar Yetty.
ADVERTISEMENT
Bicara soal pengemasan promosi yang dibuat menarik dan tak biasa ini, Yetty selaku produser film menggandeng anak muda untuk mewujudkan film dengan ide yang segar. Film ini dihadirkan dengan menggandeng anak muda.
Sang sutradara, Annisa Hertami mengatakan bahwa tak cuma sekedar promosi dan menujukkan mana saja tempat di Jogja yang siap dengan protokol saja yang ditampilkan tapi juga empati untuk masyarakat.
"Di sini kami tunjukkan gimana hubungan Daya dengan ibunya dan juga empati di dalam film ini," kata Annisa.
Film yang dibuat dalam kurun waktu satu bulan ini juga mengalami banyak tantangan lebih di masa pandemi. Untuk mengakali hal itu, jumlah kru pun dibatasi juga dan tentu patuh protokol kesehatan.
ADVERTISEMENT
Pemeran Daya, Sekar Sari, merasa bahwa di film ini ada emosi begitu kuat terasa. Ia memerankan karakter Daya yang serba dibatasi semasa pandemi. Cita-cita lanjut S2 terhambat, kegiatan tari dibatalkan, ibu yang sakit, juga jauh dari sang kekasih yang saat bertemu justru reaktif COVID-19. Lengkap sudah persoalan Daya.
"Di film ini, poin empati penting di masa pandemi. Muncul insecure harus imbangi juga dengan empati. Kalau tidak, yang ada prasangka buruk sampai level paranoid yang bisa mengganggu," kata dia.
Sementara itu, Denta Aditya yang memerankan sebagai karakter Adi merasa ada tantangan yang lebih. Dalam peran ini dirinya harus memerankan karakter petualang tapi juga bagaimana menampakkan sisi empati kepada orang lain.
ADVERTISEMENT
"Adi orang berpetualang berani ambil resiko. Walaupun dia berani, dia nggak ceroboh dia mau datang ke Jogja test dulu. Menjaga diri sendiri dulu baru menjaga orang lain," ungkapnya.
Lewat film ini, seluruh kru yang terlibat bisa mengobati kerinduan akan jogja sekaligus menumbuhkan empati bersama selama masa pandemi.