Konten Media Partner

Harga LPG 3 Kg di Pengecer Naik, Warga Pilih Antre di Pangkalan

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Harga gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) atau yang sering disebut gas melon di Kota Yogyakarta mencapai Rp 25 ribu per tabung. Akibatnya, banyak masyarakat yang memilih langsung mengantre di pangkalan-pangkalan gas elpiji bersubsidi, ketimbang harus membeli di pengecer.

Seperti yang terlihat di pangkalan milik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan Laksda Adisujtipto milik PT Pertamina, Senin (19/3), puluhan orang terlihat berjajar mengantre mendapatkan gas melon sembari membawa tabung kosong.

Mereka rela berpanas-panas ria dan menunggu cukup lama mengingat harga jual gas melon di SPBU tersebut cukup murah.

Tumpukan tabung gas elpiji 3kg yang dikhususkan untuk warga miskin. Pada kenyataannya masih banyak masyarakat mampu yang menggunakannya. (Foto: Fanny Kusumawardhani)

Salah seorang warga Ambarrukmo yang terlihat menggendong anaknya yang masih balita, Yati mengaku rela mengantre di SPBU tersebut karena harga gas melon hanya Rp 15.500 per tabung. Padahal, di warung seputar tempat tinggalnya sudah menembus angka di atas Rp 23 ribu bahkan sampai Rp 25 ribu setiap tabung.

"Bagi rakyat kecil seperti saya, harga tersebut (Rp 25 ribu/tabung) sangat mahal. Selisih harga ini lumayan, bisa buat beli beras sekilo," tuturnya ketika ditemui saat mengantre elpiji 3 kilogram di SPBU Laksda Adisutjipto, Senin (19/3).

Untuk mendapatkan gas bersubsidi ini, warga memang hanya diperbolehkan membeli 1 tabung saja. Sebenarnya jika ingin mendapatkan 2 tabung tetap diperkenankan, hanya saja pasangan mereka (suami/istri) harus turut hadir dalam antrian tersebut. Karena hal tersebut sudah menjadi kebijakan dari SPBU tempat pangkalan ini berdiri.

Pekerja memeriksa tabung gas elpiji 3kg (Foto: Antara/Rahmad)

Namun, terkadang ada saja oknum-oknum yang bertindak tidak jujur dengan melakukan pembelian melebihi yang diperkenankan. Modus-modus mulai dari meminjam KTP hingga datang beberapa kali bersama orang yang berbeda sering terjadi. Sehingga terkadang warga yang sebenarnya membutuhkan justru tidak mendapatkan jatah.

Terlebih, banyak warung yang sekarang memilih menjadi pengecer karena dengan menjadi pengecer justru mendapatkan untung yang lebih banyak daripada menjadi pangkalan resmi seizin PT Pertamina.

Dengan menaikkan harga seenaknya, para pengecer tersebut mengeruk untuk yang cukup besar dari bisnis gas melon. "Pemerintah kalau bisa mengaturnya. Biar kami yang kecil ini tetap bisa membeli elpiji 3 kg dengan harga normal," harapnya.

Salah seorang petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya mengakui jika setiap hari di mana SPBU tersebut mendapatkan kiriman gas melon dari agen, warga sudah berjajar mengantre. Pihak SPBU memang melakukan pembatas pembelian untuk setiap warganya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. (erl)