Geliat Rumah Makan Gudeg Yu Djum di Tengah Wabah Virus Corona

Tak hanya sektor pariwisata saja yang terdampak oleh wabah virus corona. Sebagian sektor kuliner rupanya juga ikut merasakannya. Walaupun masih ada fasilitas untuk pembelian makanan secara online, hal tersebut nampaknya tidak terlalu signifikan dampaknya. Seperti yang dialami oleh Rumah Makan Gudeg Yu Djum.
Rumah makan yang menyuguhkan menu gudeg legendaris ini harus berjuang keras di tengah wabah virus corona. Menurunnya wisatawan dari luar Yogyakarta membuat kuliner gudeg juga sepi peminat.
“Virus corona ini berdampak sekali ke kami. Kalau kita harus ikut lockdown, bagaimana nasib karyawan? Kalau terlalu lama libur justru dampaknya tidak baik. Orang (masyarakat) juga susah mendapatkan makanan karena banyak rumah makan yang sudah tutup,” ujar Eni Widiastuty, pemilik Gudeg Yu Djum 167, Senin (30/3/2020).
Ia mengatakan bahwa 2 cabang Rumah makan Gudeg Yu Djum terpaksa tutup akibat virus corona ini. Pihaknya pun menerapkan SOP yang ketat pada sejumlah cabang yang masih memungkinkan untuk buka.
“Selama masih memungkinkan untuk bekerja kita coba untuk tetap buka. Tentunya dengan SOP yang ketat dan jelas buat keamanan karyawan dan pelanggan,” ceritanya.
Ia tak menutup mata bahwa kini lebih banyak driver ojek online yang mendatangi rumah makannya. Untuk memberikan apresiasi, pihaknya memberikan bingkisan berupa 1 paket sembako untuk para driver ojek online.
Selain untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, pemberian paket sembako ini menjadi salah satu penyemangat bagi para driver ojol yang tetap harus bekerja.
Selain membagikan pada driver ojek online, paket sembako juga diberikan pada para karyawan Gudeg Yu Djum dan warga sekitar yang berkekurangan.
“Walau sedikit kita berharap bisa meringankan beban hidup mereka dan memberikan semangat kepada mereka, bahwa kita bisa melewati masa-masa sulit ini. Tidak hanya mereka yang terdampak, tapi kita semua merasakan itu,” katanya.
Ide ini muncul lantaran banyak orang yang kesulitan mendapatkan bahan makanan akibat imbauan untuk #dirumahaja. Apalagi, untuk para pekerja yang pendapatannya harian.
“Stay di rumah tidak cukup hanya 1,2,14 hari, sedangkan mereka belum tentu punya simpanan uang buat mencukupi kebutuhan mereka. Lalu bagaimana mereka makan kalau tidak nekat untuk bekerja?” kata Eni.
Pihaknya pun berharap, wabah virus corona ini bisa segera berakhir, sehingga seluruh aktivitas termasuk perekonomian bisa kembali normal. Ia juga mengajak para pengusaha lain untuk membantu warga yang berkekurangan untuk melawan virus corona.
