Grebeg Syawal Digelar, Warga Tetap Antusias Meski Gunungan Tak Dirayah

Konten Media Partner
11 April 2024 20:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang Polisi sedang berjaga dan membantu warga untuk mendapatkan isi gunungan. Foto: M wulan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Polisi sedang berjaga dan membantu warga untuk mendapatkan isi gunungan. Foto: M wulan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar prosesi Garebeg Sawal atau Grebeg Syawal dalam rangka memperingati Idul Fitri 1445 H/Tahun Jimawal 1957, pada Kamis (11/4/2024).
ADVERTISEMENT
Tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun itu selalu disambut antusias oleh masyarakat dan wisatawan yang sedang berlibur di DIY. Berdasarkan pantauan di lokasi, ratusan orang sudah memadati Kompleks Pagelaran dan Pelataran Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta sejak pagi tadi.
Namun, ada yang berbeda dari gelaran kali ini. Jika biasanya gunungan yang dibawa oleh Abdi Dalem dapat dirayah, tahun ini Keraton Ngayogyakarta memutuskan untuk tidak merayah tetapi akan dibagikan oleh petugas secara bergiliran kepada masyarakat.
"Prosesi daripada grebeg Syawal tahun ini berbeda dibandingkan dua tiga tahun lalu, ini ditarik mundur seperti prosesi HB VIII silam," ujar Tim Pengkaji Kitab, KRT Zhuban Hadiningrat, Kamis (11/4/2024).
Kata dia, prosesi seperti ini akan diteruskan di tahun tahun mendatang lantaran seharusnya Garebeg gunungan itu tidak dirayah, tetapi, yang sebenarnya itu dibagikan.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, KRT Zhuban tak menepis prosesi yang dikemas secara berbeda itu juga untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan bersama, mengingat banyak kejadian jatuh, kehilangan barang yang dialami masyarakat di tahun sebelumnya saat merayah.
"Mudah-mudahan ini untuk tahun depan dan seterusnya tetap seperti ini," ucap dia.
Sementara Penghageng Kawedanan Reksa Suyasa KRT Kusumanegara mengatakan terdapat satu titik tambahan yang menjadi lokasi pembagian ubarampe gunungan, yakni Ndalem Mangkubumen, yang juga akan menerima sejumlah 50 buah.
Namun Ndalem Mangkubumen tak menjadi titik lokasi pembagian ubarampe gunungan Keraton. Untuk jumlah gunungannya sendiri, Keraton Yogyakarta menyediakan lima jenis gunungan, yakni dua Gunungan Kakung, satu Gunungan Estri, satu Gunungan Gepak, satu Gunungan Darat, dan satu Gunungan Pawuhan.
ADVERTISEMENT
"Setelah melalui proses kajian, dasar sejarah inilah yang menjadi alasan pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen dilakukan kembali saat prosesi Garebeg Sawal pada masa pemerintahan Sri Sultan HB X ini. 50 pareden gunungan di Ndalem Mangkubumen akan diterima secara langsung oleh GKR Mangkubumi, putri sulung Sri Sultan HB X. Adapun prosesi pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen tersebut tidak dibuka untuk umum," ungkap dia.
Meski tidak merayah gunungan seperti biasanya, salah satu wisatawan asal Medan, Samsuryani mengaku tetap antusias mengikuti tradisi yang digelar Keraton Yogyakarta tersebut. Kata dia, gelaran tersebut menarik dan tersirat makna mendalam terkait budaya di Yogyakarta.
"Baru pertama kali kami kesini, kami orang Medan, Sumatera, senang sekali bisa ikut Grebeg Syawal di Jogja," ucap Samsuryani.
ADVERTISEMENT
Begitupula dengan wisatawan asal Jakarta, Tia juga mengungkap hal senada. Meski tidak merayah, ia dan rombongan tetap kebagian isi gunungan tersebut. Rencananya akan dibawa ke Jakarta sebagai oleh-oleh budaya dari Yogyakarta.
"Rencana mau dibawa aja ke Jakarta dan disimpan buat kenang-kenangan. Baru seminggu saya liburan ke sini bareng keluarga," pungkasnya.
(M Wulan)
k Dirayah*
TUGU JOGJA - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar prosesi Garebeg Sawal atau Grebeg Syawal dalam rangka memperingati Idul Fitri 1445 H/Tahun Jimawal 1957, pada Kamis