News22 Agustus 2019 22:19

Indonesia Harus Siap Hadapi Era Society 5.0

Konten Redaksi Tugu Jogja
Indonesia Harus Siap Hadapi Era Society 5.0 (259374)
Belum habis era 4.0, saat ini mulai berkembang jadi era 5.0. Pada era ini masyarakat tak lagi hanya soal mengenali pemanfaatan teknologi saja melainkan lebih jauh pada proses berpikir tentang bersikap kritis dalam pemanfaatannya.
ADVERTISEMENT
"Kita itu 4.0 nya masih struggling. Nggak hanya negara Indonesia, negara tertentu yang paling advance yang sudah tentu 4.0. Kalau kita (Indonesia) masih antara 3.0 dan 4.0" papar Zulfikar Alimuddin, direktur dan master trainer HAFECTS saat ditemui di Yogyakarta, Kamis (22/8/2019).
Tak bisa memungkiri bahwa perkembangan masyarakat Indonesia memang masih berada di tahap pertengahan. Pada era 3.0 hanya bicara soal informatika saja sedangkan 4.0 mulai bicara soal penggunaan teknologi. Sebagian sumber daya masih terombang ambing pada dua era itu.
Hingga kemunculan era 5.0 yang dimulai oleh negara maju. Mau tidak mau, Indonesia yang belum cukup kuat menghadapi era 4.0 harus sudah bersiap diri menyambut era society 5.0.
"Sebetulnya bukan hanya siap dan tidak siap lagi. Ini menjadi suatu keharusan Indonesia lebih siap menghadapi era 5.0" kata dia.
ADVERTISEMENT
Di era 5.0, semua hal sudah serba digital. Hal ini menandakan segala lini membutuhkan internet, sosial media, maupun artificial inteligent. Semua pemanfaatan yang berbasis mesin, tentunya membutuhkan kesiapan masyarakat yang dibangun dari kemampuan seseorang yang mampu menyerap, menganalisa informasi dan menggunakannya dengan tepat.
"Untuk itu masyarakat perlu dibangun cara berpikirnya. Cara pembuatan kesimpulan, membuat keputusan agar prosesnya itu lebih quote unquote bertanggung jawab. Artinya tidak sekedar membuat suka-suka dia, tapi ada hal yang harus dipertimbangkan dulu"
Rupanya dalam membuat suatu hal yang butuh pertimbangan tadi akan berdampak pada masyarakat yang menggunakan teknologi yang sudah ada secara efektif dan bijaksana. Dari perkembangan era yang cepat, masyarakat juga akhirnya dituntut untuk semakin berkembang dan berpikir secara cepat untuk menyelesaikan suatu hal.
ADVERTISEMENT
"Sebetulnya Jepang yang mempelopori ini karena melihat perkembangan yang pesat di era distruktif ada banyak perubahan cepat, maka kita dituntut juga untuk mampu berpikir lebih cepat" ujarnya.
Kemampuan berpikir seperti ini rupanya tak serta merta muncul sekejap, begitu saja. Melainkan butuh dilatih secara perlahan. Zulfikar mencontohkan bahwa kemampuan berpikir seperti ini layaknya membentuk otot. Dalam membentuk otot, perlu dilatih perlahan supaya terbentuk, begitu pula dengan kemampuan otak berpikir. Sedangkan kemampuan berpikir sendiri dimulai ketika seseorang sedang mengenyam pendidikan. Oleh karena itu dibutuhkan yang namanya tenaga pendidik kompeten.
"Oleh karenanya penting untuk guru membawa kemampuan berpikir seperti itu pada siswa. Ini sebetulnya sulit karena guru tidak dibentuk dengan cara berpikir demikian. Oleh karenanya, pelatihan mengenai cara berpikir ini menjadi penting" ujarnya.
ADVERTISEMENT
Melihat ke perkembangan zaman yang semakin pesat, sudah tidak mungkin lagi untuk menutup mata dan mundur dari perubahan. Bukan lagi mau tidak mau atau siap dan tidak siap melainkan merupakan sebuah tuntutan perkembangan zaman dan dipaksa mengikuti arus perkembangan.
"5.0 menuntut siswa dan masyarakat secara umum dan masyarakat mampu berpikir kritis dan konstruktif, dan kalau kita lihat kemudian secara umum guru-guru kita belum mampu melakukan pengajaran dengan metode itu, berarti siswanya banyak belum bisa memiliki cara berpikir yang kritis konstruktif maka sebuah negara bisa dikatakan belum siap menghadapi 5.0. Tapi sudah saya katakan tadi sebuah tuntutan zaman, kita harus lakukan" ujarnya. (Birgita/adn)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white