Industri Jamu di Cilacap Serap Ribuan Tenaga Kerja
·waktu baca 2 menit

Saat ini popularitas jamu kian tergerus dengan adanya aneka minuman modern. Padahal jamu menjadi minuman khas Indonesia.
Berbagai upaya dilakukan untuk kembali meningkatkan popularitas jamu. Mengemasnya jadi lebih menarik, memasarkan produk secara digital, dan berbagai kegiatan lain dilakukan untuk tingkatkan popularitas jamu.
"Jamu itu adalah aset kreatif Bangsa. Kalau kita tidak mau mengolah untuk menjadi aset kreatif yang bernilai ekonomi, itu hal yang kurang tepat," ujar Komisaris PT Tresno Jamu Indonesia, Mukit Hendrayatno, di sela Grand Openning Pabrik, Sabtu (11/11/2023).
Perusahaan tersebut diketahui sudah melibatkan ribuan orang dari hulu ke hilir. Tak hanya petani dan peternak saja, tetapi juga di bagian digital marketing.
"Perusahaan telah melibatkan ribuan orang dalam berbagai bidang UMKM seperti peternak madu, peternak kambing, dan marketing," tuturnya.
Industri jamu juga diharapkan mampu memberikan dampak positif pada pengentasan kemiskinan di berbagai daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Cilacap, M. Wijaya, mengungkapkan saat ini masih ada 37 desa miskin ekstrem. Pengangguran jadi salah satu parameternya.
"Saat ini di Cilacap masih ada 37 desa miskin ekstrem. Kemarin ada sekitar 6 ribu pengangguran lebih dari 2 juta penduduk di Cilacap," katanya.
Ia pun mengapresiasi perusahaan yang telah serap puluhan ribu karyawan untuk bantu entaskan kemiskinan di Cilacap.
Menurutnya semakin berkembangnya industri jamu, maka perputaran uang juga kian lancar. Ia pun mendorong para pengusaha jamu untuk terus memajukan perusahaannya.
Pada peresmian pabrik barunya di Cilacap ini, Tresno Jamu juga mengundang sejumlah mitra yang juga turut memberikan dukungan pada kegiatan yang dilakukan, antara lain Irjen Pol. Rudi Darmoko, Brigjen TNI Yudha Airlangga, Brigjen TNI Iwan Ma’aruf Zainudin, dan juga Kepala BPOM Semarang, Lintang Purba Jaya.
