kumparan
9 Sep 2019 8:58 WIB

Judgement Buruk Jadi Penyebab Depresi dan Perusak Tubuh

Ilustrasi depresi. Foto: Kumparan.
Hidup sebagai manusia membuat seseorang tak lepas dari judgement terentu, entah baik atau buruk. Namun sering kali justru yang paling banyak diterima adalah judgement buruk yang tanpa sadar merusak diri.
ADVERTISEMENT
Bahkan tak sadar kita sering kali hidup menurut versi orang lain, bukan apa yang benar-benar diinginkan. Judgement tersebut bisa membawa pada jurang depresi dan perasaan rendah diri.
"Sering kali kita membeli ucapan orang lain. Judge orang kita ambil untuk diri sendiri" ujar Fena Wijaya, CFMW, Bars Facilitator Indonesia, Minggu (8/9/2019).
Judge tersebut bahkan sering kali seseorang pendam dan tanpa sadar menumpuk. Fena mencontohkan sebagian bahkan ada yang terlihat baik-baik saja di luar padahal betulnya di dalam dirinya terjadi konflik. Hal itu sering kali terjadi akibat seseorang tidak bahagia. Rupanya salah satu ketidak bahagiaan itu timbul akibat kita 'membeli' pemikiran orang lain.
Dia mencontohkan sebagai seseorang yang awalnya bekerja dengan asik dan kreatif menurut versinya berubah menjadi pekerja keras setelah mendapat judge yang tidak enak dari orang lain. Akibatnya seseorang tersebut akan mempercayai keyakinan banyak orang bahwa bekerja harus keras. Dampaknya, orang yang awalnya asik menjalani hidup, merasa tertekan dengan beban kerja keras karena mendapat judge. Akhirnya seseorang tersebut berekspektasi dan tak mampu melampaui sehingga berujung pada depresi.
Fena Wijaya, Bars Facilitator. Foto: asa.
"Kebanyakan dari kita karena punya banyak ekspektasi dan merasa kok nggak asik menjalani hidup. Banyak yang akhirnya merasa nggak asik menjalani hidup. Hidup nggak sesuai ekspektasi saya. Dan berusaha untuk menjalani hidup orang lain tapi tidak bahagia juga," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Pemikiran tersebut yang menurut Fena membuat orang merasa putus asa. Hal inilah yang menurutnya menjadi berbahaya khususnya bagi orang yang memiliki kecenderungan tertutup atau introvert. Itulah sebabnya kerap dijumpai orang yang terlihat baik-baik saja di luar namun tiba-tiba dikabarkan bunuh diri.
"Kalau yang terbuka atau ekstrovert itu dia akan mencari solusi. Nah yang bahaya itu yang introvert kepribadian yang diem, yang silent, ditahan, dipendam. Apa lagi kita banyak orang kalau memiliki kepercayaan udah lah nerima aja, udah lah diikhlaskan, tapi dia nghak tahu bagaimana cara merilisnya. Itu yang menurut saya angka tertinggi di sana (kasus bunuh diri)" ujar dia. (Birgita/adn)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan