Konten Media Partner

Kala Pandemi Corona Mendekatkan Manusia dengan Alam

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komunitas Pagar Merapi sedang menanam bibit pohon beringin. Foto: Jay.
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas Pagar Merapi sedang menanam bibit pohon beringin. Foto: Jay.

Pandemi corona yang sampai saat ini masih berlangsung di dunia menyerang berbagai aspek kehidupan manusia. Kesehatan, perekonomian, bahkan pariwisata ikut merasakan dampak dari pandemi ini. Hingga kini, kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus merangkak naik. Pun demikian di Yogyakarta yang masih menunjukkan kenaikan walaupun sempat mengalami zero case.

Alih-alih berdiam diri meratapi pandemi yang entah kapan berakhir, komunitas di lereng Merapi memandangnya sebagai hal yang berbeda. Pandemi ini justru membuat mereka disapa oleh alam.

“Kita nggak tau ya karena COVID-19 ini orang do selo (pada senggang) atau gimana, tapi tersadar untuk kembali merawat alam,” ujar Joko MKT, pendiri Komunitas Pagar Merapi, Kamis (4/6/2020).

Di tengah pandemi ini, Kawasan Merapi terpaksa tutup 100% untuk membantu pemerintah dalam memutus penyebaran COVID-19. Alhasil, pariwisata di lereng Merapi mati total.

Joko MKT, pendiri Komunitas Pagar Merapi, saat memberikan bibit pohon beringin pada warga untuk ditanam. Foto: jay

Komunitas Pagar Merapi memanfaatkan hal tersebut dengan kembali menghijaukan alam di lereng Merapi.

"Kami memberi perhatian pada lingkungan hidup, sosial, pariwisata, dan kebencanaan," kata Galih Wijaya, yang juga pendiri Komunitas Pagar Merapi.

Apalagi menurutnya, Gunung Merapi sewaktu-waktu bisa memberikan bencana tak terduga bagi warga Yogyakarta. Sehingga, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia ini perlu perhatian lebih.

“Intinya kita orang-orang peduli sosial sering mbantu-mbantu,” katanya.

Tak sendirian, komunitas ini pun menggandeng warga dan sejumlah pihak lain untuk mendukung gerakan menghijaukan kawasan lereng Merapi ini. Joko pun merasa senang di tengah suasana yang riuh ini, masih banyak orang yang peduli dengan keasrian alam di lereng Merapi.

“Kita kan kampanyenya untuk baik, untuk lingkungan sekarang lingkungannya sudah rusak kayak gini. Jangan sampe parahlah,” tutur Joko.

Komunitas Pagar Merapi menanam bibit pohon beringin. FOto: jay

Ia bercerita ada penjual bibit pohon yang dengan sukarela menyumbangkan 200 bibit pohon beringin untuk ditanam di kawasan lereng Merapi. Kabar ini pun disambut baik oleh Komunitas Pagar Merapi.

“Bayangin, bakulnya saja, dia janji nyokongin 200 pohon per bulan. Ternyata kan orang yang peduli kayak gini banyak ketika kita serius. Bagaimana gerakan kita terbantukan,” kata Joko bangga.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Komunitas Pagar Merapi menargetkan akan menanam sekitar 2.700 pohon beringin sepanjang 27 kilometer di lereng Merapi yang akan menjadi tree wall.

Komunitas Pagar Merapi menanam bibit pohon beringin. Foto: jay.

Pihaknya pun kini tengah bersiap untuk menyambut era new normal, yang rencananya akan diterapkan pada Juli 2020 nanti. Pariwisata di kawasan Lereng Merapi pun bersiap untuk ini. Salah satunya adalah dengan menyiapkan rute baru untuk wisata jip melintasi Kali Gendol.

“Nanti adventure di kaki merapi ya (Kali) Gendol. Wisata ini yang diangkat, ini umurnya panjang,” tuturnya.

Rute baru untuk wisata jip ini meminimalisir melintasi pemukiman warga. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman pada warga yang banyak belum teredukasi soal ancaman dan cara penanggulangan COVID-19.

“Juli nanti kemungkinan baru bisa dilakukan uji coba. Kalau memang wisatawan menyambut baik, akan kami lakukan terus,” ujar Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi Wilayah Barat Kabupaten Sleman, Dardiri.

Sudah lebih dari 2,5 bulan, pelaku wisata jip lava tour lereng Merapi tak beroperasi akibat pandemi COVID-19. Sekitar 6 sampai 7 ribu orang pun kehilangan mata pencahariannya.

“Anggota kami yang aktif ada 887 armada jip, tapi kan ada marketing maupun operator lain. Kalau diperkirakan lebih dari 6 ribu yang kehilangan mata pencaharian akibat berhentinya beroperasi,” katanya

Diharapkan, new normal yang rencananya diterapkan bulan Juli 2020 nanti mampu memberikan senyum bagi para pelaku wisata di kawasan lereng merapi.