Kecintaan Mbah Bardi Terhadap Sepakbola Tak Lekang Waktu

Meskipun pernah ditertawakan ketika mengeluarkan uang cukup banyak untuk beberapa anak seusia SMP - SMA agar bisa bermain sepakbola. Dengan banyak yang mengatakan uang tersebut bisa dipakai untuk mengikat pemain bintang, tapi bagi H Subardi, SH, MH atau yang lebih akrab disapa Mbah Bardi menginginkan uang itu dipakai untuk membina pemain muda.
Subardi adalah satu sosok yang punya nama besar di kancah sepakbola daerah dan nasional, terlebih bagi masyarakat Sleman dan para pandemen PSS Sleman, karena Subardi adalah saksi hidup perjalanan tim berjuluk Super Elang Jawa.
Kini, Subardi sibuk menyuarakan aspirasi rakyat sebagai Ketua DPW Partai Nasdem DIY sejak 2012 silam. Namun demikian, Subardi tak bisa dipisahkan dari sepakbola dan tetap mencintai sepakbola, khususnya sepakbola di daerah.
Sejatinya, kecintaan Subardi terhadap sepak bola tumbuh di zaman PSIM Yogyakarta, yang merupakan saudara tua PSS.
"Saat muda kala itu saya sedang sangat gandrung sepakbola lebih dulu mengenal PSIM. Nyaris dalam setiap laga PSIM, baik kandang maupun tandang, saya tak pernah absen datang. Waktu itu sekitar tahun 80 an. PSS dan Persiba Bantul belum terlalu tampak di permukaan. PSIM yang lebih dulu eksis,” kenang Mbah Bardi, Selasa (9/4/2019) ketika ditemui dikediamannya.
Nama-nama pemain Laskar Mataram kala itu seperti Mellius Ma’u, Bambang Haryatmo, Maryono, Semi Suparji, Mudiyanto, Edi Prapto sampai Siswadi Gancis cukup lekat di ingatan Mbah Bardi.
Hingga ketika tahun 90-an, Mbah Bardi mulai mengenal PSS secara lebih dekat. Dan pada tahun 1992, Bupati Sleman kala itu, Arifin Ilyas menarik Mbah Bardi sebagai bagian dari pengurus PSS sebagai bendahara. Di sinilah dia all out membesarkan PSS Sleman.
“Sudah sering nomboki untuk kebutuhan tim waktu itu seperti bayar hotel kalau tim main di luar kandang atau kebutuhan lain. Ya pakai uang pribadi. Kan tidak ada sumber dana tetap dari pihak lain. Di sinilah saya mulai mengerti lebih jauh soal manajemen sepakbola,” katanya.
Mbah Bardi kemudian melakukan terobosan jitu. Bersama Bambang KW, ia mencari pemain (telescouting) ke beberapa daerah di DIY untuk dipersiapkan sebagai pemain PSS. Pemain yang dicari usia SMP-SMA. Para pemain Popnas DIY kala itu tak luput dari incaran.
“Mengapa anak SMP-SMA? Karena saya akhirnya sadar bahwa pemain bola yang berkualitas harus dibina sedini mungkin. Dan bagi saya, kunci sejati merekrut pemain sepakbola adalah melakukan pembinaan dengan fokus usia dini untuk bisa mencetak bibit tangguh di masa yang akan datang,” kata Mbah Bardi.
Bagong, Johan, Kahudi, Fajar Listiyantara, Slamet Riyadi adalah sebagian pemain muda PSS kala itu. Benar saja, fase ini PSS menuai hasil pembinaan Fajar dkk selama tiga tahun belakangan. Berstatus tim debutan di Divisi I, PSS yang mengandalkan materi pemain hasil binaan sendiri berhasil lolos dari Grup Tengah III, mendampingi Persikabo Bogor ke babak 10 besar meski harus puas di peringkat tiga dan gagal ke semifinal.
Meski demikian, atas konsistensi Mbah Bardi dan nama-nama penting di balik PSS seperti Sukidi Cakrasuwignya, Bambang Nurdjoko dan Herwin Sjahruddin mengelola tim, PSS naik kasta ke Divisi Utama Liga Indonesia mulai musim 2000/2001.
“Baru setelah itu banyak pihak yang akhirnya mengerti mengapa saya dulu ikut merekrut dan membina banyak pemain muda dalam durasi sampai tiga tahun. Karena bagi saya, mengelola tim sepakbola bukan semata-mata mengejar kemenangan, tapi bagaimana menyiapkan pemain di dalamnya,” kata sosok yang kini maju sebagai caleg DPR RI ini.
Mantan Anggota Executive Comittee (EXCO) PSSI tahun 2007-2011 ini memiliki semboya bekerja untuk kemanfaatan kehiduoan orang banyak, hal itu juga yang dia tunjukan kesehariannya. Selain itu, Mbah Bardi juga pernah menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia pada tahun 2007-2008, Ketua Bidang Pembinaan PSSI tahun 2003-2007, dan Ketua Komite Kompetisi PSSI tahun 2007-2011. (cdr/adv)
