Konten Media Partner

Kembar Siam Dempet Kepala Asal Aceh Urung Dipisahkan

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tim dokter yang menangani bayi kembar siam Fitri Safiah dan Fitri Rahmawati memutuskan untuk tidak memisahkan keduanya. Setelah melakukan kajian dari berbagai pihak, dari tenaga ahli bedah syaraf maka tim dokter dari tiga rumah sakit masing-masing RS Zaenal Arifin Aceh, RSPAD Jakarta dan RSUP Sardjito, maka bayi kembar syiam yang lahir 2 Mei 2015 lalu di Kabupaten Aceh Tenggara, Propinsi Nangroe Aceh Darusallam. Fitri Safiah dan Fitri Rahmawati lahir dengan kondisi kepala dempet. Selain tempurung kepala bagian atas yang menyatu, ternyata pembuluh darah di kepala mereka juga menyatu. Sehingga ketika dipisahkan tidak menjamin berhasil dan justru akan mengancam salah satu dari kedua bayi tersebut. Ketua tim Penanganan Bayi Kembar Siam Fitri Safina dan Fitri Rahmawati, Prof Sunartini mengatakan, selama tiga tahun ini, bayi kembar siam tersebut sudah melewati berbagai proses medis serta psikologis. Sejak dilahirkan, bayi kembar siam tersebut sudah menjalani perawatan dan operasi di tiga rumah sakit masing-masing Rumah Sakit (RS) Zainal Arifin Aceh, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto jakarta dan Rumah Sakit Unum Pusat (RSUP) dr Sardjito. Selama tiga tahun ini, kembar siam asal Aceh ini telah menjalani operasi sebanyak 5 kali. Operasi tersebut masing-masing sekali di RSPAD Gatot Subroto dan empat kali di RSUP Sardjito. Berkat lima kali operasi tersebut, bayi kembar siam tersebut kini sudah bisa berdiri, berjalan bahkan setengah lari. Sementara perkembangan fisik keduanya juga mendekati anak normal lainnya. "3 tahun kembar siam tersebut kami rawat di RSUP Sardjito,"ujarnya. Menurutnya, untuk menangani kembar siam tersebut, pihaknya sudah mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya yang ada. Hampir seluruh dokter bedah saraf di tanah air sudah mereka libatkan termasuk salah satunya Prof Dr R M Padmosantjojo SpB SpBS yang telah berhasil memisahkan kembar siam dempet Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani belasan tahun yang lalu. Tak hanya itu, tim dokter juga telah berkonsultasi dengan Prof Goodrich, dokter ahli pemisahan kembar siam dari Amerika Serikat yang telah sukses melakukan 50 kali operasi kembar siam dempet kepala di berbagai negara. Tak hanya itu, ahli dari Amerika Serikat tersebut juga datang langsung ke RSUP Sardjito untuk melihat langsung kondisi bayi kembar siam tersebut. Menurut ahli dari Amerika Serikat tersebut, lanjutnya, kondisi bayi kembar diam ini tidak simple bahkan bisa dikatakan sangat kompleks. Sebab, otak yang menyatu lebih dari 70 persen sehinhga sangat beresiko ketika harus dipisahkan. Sehingga memang jalan satu-satunya tidak perlu dipisahkan sampai ada ilmu atau tehnologi yang memungkinkan di kemudian hari. "Komite Etik dan tim Bioetika memberikan pertimbangan khusus. Karena saat ini kedua bayi kembar siam tersebut sudah tumbuh dan kembang, telah berjalan sendiri dan pintar serta banyak bicara,"tambahnya. Tim penanganan bayi kembar siam, Dr Endro Basuki menyebutkan, dalam menangani bayi kembar siam tersebut pihaknya melibatkan berbagai pihak mulai dari kerjasama tiga rumah sakit yaitu RSPAD Gatot Soebroto, RS Zaenol Abidin Aceh dan RSUP Sardjito. Pihaknya juga melibatkan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Komite Etik dan Komite Bioetik. Keterlibatan berbagai pihak tersebut untuk menjamin semua proses terkait dengan bayi kembar siam tersebut sesuai dengan tahapan dan aturan hukum yang berlaku.

Kembar Siam Dempet Kepala Asal Aceh Urung Dipisahkan
zoom-in-whitePerbesar

"Tugas kita memang tidak hanya sebatas memisahkan, tetapi sampai pendampingan psikologisnya,"ujarnya. (erl)