Konten Media Partner

Kepsek Benarkan Dugaan Koban Bullying berasal dari MI Sleman

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bullying. Foto: Kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bullying. Foto: Kumparan.

Usai cerita bullying di utas Twitter @Mummy_Nduty yang diunggah pada Rabu (19/2/2020) ramai, pihak sekolah yang disinyalir merupakan tempat siswa dalam cerita itu bersekolah memberikan tanggapan. Kepala Sekolah MI Qurrota Ayun, Muh Affifuddin mengatakan bahwa tidak ada perundungan yang terjadi di sekolahnya.

Pihak sekolah membantah bahwa korban berinisial SAGH (9) yang bersekolah di Dusun Blotan, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman ini, mengalami penganiayaan hingga dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani operasi. Meskipun begitu, pihak sekolah tidak bisa memastikan karena tidak adanya CCTV di sekolaj tersebut. Sekolah kemudian menunjukkan hasil USG yang kemudian diketahui dari RS Bethesda tertanggal 10 Februari 2020 dengan kesan sonoanatomis tanda akut appendistis atas nama siswa berinisial SAGH tersebut.

“Kami dapat hasil USG ini dari pihak keluarga, hanya begitu saja sesuai yang kami sampaikan ke wartawan semua,” ujar Affifuddin pada Jumat (21/2/2020) siang.

Pihak sekolah mengaku telah melakukan investigasi dan mediasi antara korban dengan siswa yang ditunduhkan melakukan aksi bullying. Affifuddin mengatakan bahwa siswa tersebut justru menangis dan mengatakan bahwa tidak melakukan perbuatan tersebut.

“Kalau dalam artian yang dipukuli, dipojokkan itu tidak ada. Menurut hasil penelusuran kami, kejadiannya saat hendak Sholat Dhuha. Jadi anak antri wudhu entah sengaja dipukul atau terpukul saya kurang tahu juga karena itu belum kita telusuri lebih lanjut, sehingga menyebabkan anak tersebut konon sakit perutnya. Kami juga dikirimi screenshot hasil USG, sampai saat ini betul tidak ada penganiayaan,” katanya.

"Kami juga tanya anak yang katanya diduga memukul korban. Anak itu tidak mengaku kalau sudah memukul dan justru menangis. "Saya tidak melakukan apa-apa"," ungkapnya.

Affifuddin mengatakan pihak sekolah tetap akan bertanggungjawab pada siswa tersebut karena kejadian berlangsung di sekolah.

“Sebenarnya Sabtu mau ketemu orang tua, kemudian menyampaikan tanggung jawab kami, sudah merencanakan ke sana bahwa ini bagian dari tanggung jawab kami sekolah. Kami akan siap biaya kalau memang itu yang diminta,” ujarnya.