Konten Media Partner

Kerinci 1983: Kisah Ketangguhan Jokowi Mendaki Gunung

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran buku Kerinci 1983. Foro: ken
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran buku Kerinci 1983. Foro: ken

Jumat, 18 Februari 1983 sekitar pukul sembilam pagi, hampir semua peserta dalam kondisi drop setelah 24 jam menyusuri lereng Kerinci. Kaki mereka terasa lemas beradu dengan tanjakan. Dalam beberapa ruas jalur, perjalanan harus dibantu tangan, karena pendakian terlalu terjal.

Selain itu mereka juga menanggung beban logistik di punggung yang serasa meruntuhkan tulang. Pagi itu, Gito merasakan badannya mau ambruk. Tapi pikirannya terus memotivasi untuk melanjutkan pendakian, karena puncak Kerinci sudah terlihat dari kejauhan.

Sebisa mungkin, dia menguatkan fisik dan mental untuk menyelesaikan perjalanan ke puncak, yang mungkin tak lebih dari sejam lagi. Saat itulah, dia mendengar teriakan dari atas. Gito pun mendongak, dan dia melihat sesosok pemuda kurus jangkung menyilangkan lengan di depan dada, lalu merentangkan kedua tangan tinggi-tinggi. 'Wooii puncak... Woooiii puncaackk!!!' teriak lelaki itu berulang-ulang.

Sontak sebersit semangat menjalar di jantung Gito, karena teriakan itu menandakan seseorang telah mencapai puncak. Dalam hati dia berkata, puncak Kerinci tinggal beberapa langkah lagi.

Sejenak Gito berhenti sembari melihat pemuda yang berteriak karena

berhasil mencapai puncak itu. Ternyata dia Jokowi (Joko Widodo), Gito tak terlalu heran akan hal itu, karena sebelum Ekspedisi Kerinci pun Jokowi sudah dikenal cukup tangguh mendaki gunung.

Sepenggal cerita diatas berasal dari sebuah buku yang berjudul 'Jokowi Travelling Story: Kerinci 1983' yang di launching di Kopi Gajah pada Kamis (12/04) malam, oleh rekan-rekan Jokowi dalam melakukan ekspedisi menjajal puncak gunung berapi aktif di Indonesia, Gunung Kerinci yakni Jambrung Sasono, Jaka Santosa, RB Sugito, dan Arif Mulia

Dalam buku tersebut, sang penulis Rifqi Hasibuan dan Iqbal Aji Daryono mencoba menggambarkan kisah perjalanan Jokowi dan 13 orang rekannya yang merupakan gabungan dari Mapala Silvagama.

"Ada banyak cerita tentang perkawanan, semangat, tantangan, hingga kisah-kisah lucu selama episode pendakian," kata Iqbal disela-sela launching buku itu.

Bahkan, lanjut dia, rekan-rekan pendakian Jokowi dan Mapala Silvagama juga masih menyimpan setumpuk album foto dokumentasi pendakian. Maka, buku ini tak hanya menyajikan cerita pendakian, tapi juga foto-foto eksklusif Jokowi muda bersama rekan-rekannya.

Saat proses penuturan ulang oleh rekan-rekan pendakian maupun rekan-rekan kuliah Jokowi, ternyata ada sangat banyak cerita mengejutkan. Dari sebelum pendakian, Jokowi dan rekan-rekan sudah dihadapkan dilema untuk mengikuti kegiatan. Ada juga cerita lucu saat Jokowi melakukan pemanasan sebelum mendaki Kerinci. Ada juga drama pesawat Hercules, di mana mereka bermimpi menjadi Mapala pertama yang berangkat ekspedisi naik pesawat.

Selama menempuh rute darat dari Jogja ke Padang hingga menyusur jalur pendakian, ada lebih banyak lagi cerita menarik. Saat melewati Jalur Lintas Sumatera, bus mereka dihadang begal. Saat perjalanan dari Padang menuju kaki gunung Kerinci, bahkan bus mereka mengalami kecelakaan. Dan

masih banyak lagi cerita tak terduga, yang dialami Jokowi bersama rombongan.

"Beliau itu orangnya konsisten dan selalu memberi motivasi untuk teman-teman kalau ada acara-acara mendaki gunung. Walaupun posturnya seperti nggak biasa mendaki gunung tapi beliau tangguh. Beliau orang yang pertama mencapai puncak Kerinci," kata Jaka Santosa yang akrab disapa Jakson oleh Jokowi.

Ia menuturkan, sosok Jokowi merupakan pribadi yang aktif mendaki gunung-gunung di Indonesia. Namun, beberapa pendakian seperti di Rinjani, Jokowi tidak ikut dalam ekspedisi tersebut. "Waktu itu ada makarya nya yang tertinggal, dia serius tetap kuliah tetapi tidak meninggalkan kegiatam lainnya," kenang Joksan.

Sebagai saksi seperjuangan, Joksan mengingat, Jokowi dibalik semua kelebihan dan kekurangannya, merupakan sosok pendengar yang baik. Jokowi dinilai sebagai sosok yang sangat sabar merekam berbagai persoalan, lalu berusaha mencari jalan keluarnya. (ken/nny)