Kesaksian Guru SMP di Jogja soal Sikap Mario Dendy: Normal Saja
ยทwaktu baca 2 menit

Tak hanya soal kasus penganiayaan saja yang disoroti oleh publik, rupanya sederet gaya hidup mewah tersangka Mario Dendy Satriyo yang membuat David koma itu turut menyita perhatian.
Hidup mewah Mario, anak eks pejabat pajak di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Selatan II Rafael Alun Trisambodo kini membuat geram masyarakat.
Sejumlah fakta pun berusaha dikumpulkan oleh Tim Tugu Jogja. Salah satu yang didapati adalah tempat Mario Dandy Satrio pernah bersekolah yaitu di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta.
Berbeda dengan gaya hidup mewah yang kerap diumbar di media sosial pribadinya, Wakil Kepala SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta Bidang Kesiswaan, Eka Wahyu Wibawa justru mengungkap bahwa Mario Dandy Satrio tampil apa adanya selama menempuh pendidikan di SMP Pangudi Luhur 1 Jogja.
"Nggak ada (menonjol gaya hidup mewah) karena disekolah itukan berseragam. Tidak boleh bawa (motor)," kata Wakil Kepala SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta Bidang Kesiswaan, Eka Wahyu Wibawa, saat dijumpai di sekolahnya, Senin (27/2/2023).
Pihak sekolah memang menerapkan aturan untuk tidak boleh membawa kendaraan ke sekolah. Namun Mario Dandy rupanya diantar jemput oleh supirnya.
Kendati begitu, Eka menyebut penampilan Mario tidak berlagak sombong layaknya orang kaya. Bahkan tas hingga sepatunya pun biasa saja seperti murid lainnya.
"Rata rata sama. Bagi kami biasa-biasa saja, karena dia tidak menunjukkan, sombong juga tidak, waktu itu lho ya," ujarnya.
Saat ditanyai perihal perilakunya di sekolah, Eka mengatakan Mario Dandy selalu bersikap baik bahkan juga sopan kepada guru-guru nya. Di sisi lain, Mario tidak pernah membuat onar yang mengharuskan pihak sekolah untuk menghukumnya.
Lebih lanjut, Eka juga menuturkan bahwa Mario Dandy selalu mengikuti pembelajaran dengan baik saat berada di kelas.
"Ya mengikuti (pembelajaran) dengan normal normal saja. Kami juga kaget ada peristiwa ini," ungkapnya.
Imbas kasus ini, SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta mengharapkan tidak ada lagi perbuatan serupa yang dilakukan oleh siapapun terutama anak didiknya yang saat ini masih menempuh pendidikan jenjang SMP.
"Jadi ya kami selama di sekolah ini mengajarkan nilai-nilai itu, tetapi nggak tau ya karena namanya (peristiwa) anak itu, namanya kejadian itu faktornya banyak sekali. Di luar sekolah banyak faktor yang ikut memengaruhi hal tersebut," tandasnya.
