Kisah di Balik Populernya Sop Merah di Yogyakarta

Sop ayam yang satu ini bukan sop ayam biasa. Kalau sop ayam biasa kuahnya berwarna bening, maka tidak dengan sop ayam yang satu ini. Pasalnya, sop ayam ini berwarna merah padam yang memikat siapa pun yang melihatnya.
Sop ayam ini lebih akrab dijuluki sop merah. Sejak tahun 1993, sop merah ini telah memikat lidah masyarakat Yogyakarta. Rupanya, ada kisah tersendiri sebelum sop merah ini menjadi menu andalan di warung yang terletak di sudut pertigaan Sisingamangaraja Yogyakarta.
“Dulunya jualan kayak nasi goreng, mie goreng, gitu. Tapi karena waktu itu sering sisa sayurnya (wortel dan kubis), Ibu akhirnya bikin sop dari sana,” cerita Candra Alim, pengelola Warung Sop Merah, Rabu (28/8/2019).
Dari sayuran ‘sisa’ itu, Asih (Ibu dari Candra Alim) membuat sop ayam sederhana. Siapa sangka jika menu yang dibuat dari sayuran ‘sisa’ justru berhasil mendulang rupiah. Bagaimana tidak, sop ayam sederhana ini justru menjadi menu favorit di gerobak Asih.
Merasa menu sop ayamnya lebih laku, Asih memutuskan untuk tidak berjualan mie goreng dan nasi goreng lagi. Sehingga 63 tahun yang lalu, Asih resmi hanya menjual sop ayam di warung miliknya.
Yang membedakan dengan sop merah sekarang adalah isian daging ayam. Saat pertama kali dijual, Asih tidak membebaskan pelanggan memilih bagian daging ayam yang ingin disertakan. Namun, banyak pelanggan ingin adanya bagian ayam tertentu dalam sop ayamnya itu.
“Sekarang ada ceker, kepala, sayap, paha bawah, tapi yang paling favorit itu balungan ayam dan ceker. Itu yang jadi juara,” ujarnya.
Uniknya, dulunya sop ayam ini tidak memiliki nama. Asih pun tak memberikan nama pada menu andalannya ini. Nama sop merah justru didapat dari para pelanggan yang singgah ke warungnya.
“Yang ngasih nama itu pelanggan sendiri, makanya warungnya nggak ada namanya,” kenangnya.
Candra membeberkan bahwa ada berbagai nama yang disematkan pelanggan untuk menu sop ayam milik ibunya itu. Salah satunya adalah sop cantik. Namun, karena nama ‘sop merah’ lebih sering disebut, alhasil ia memberi nama sop ayam milik ibunya sop merah.
Per harinya, Candra mengaku berhasil menjual 700 sampai 800 porsi sop merah. Walaupun lokasinya di sudut pertigaan Sisingamangaraja, rupanya hal ini tidak membuat warung ini sepi pelanggan. (asa/adn)
