Kisah Guru SD di Pelosok Gunungkidul yang Rela Antar Jemput Siswanya
ยทwaktu baca 3 menit

SD N 2 Kenteng yang berada di Kalurahan Kenteng Kapanewon Ponjong Gunungkidul kembali viral. Video lawas dan video baru perjuangan kepala SD tersebut, Mateus Broto Sugondo bersama guru yang lain tengah menjemput muridnya.
Aksi sosial ini viral kembali di setelah diunggah admin Facebook info terupdate. Admin mengunggah video yang menjemput siswanya menggunakan sepeda motornya. Nampak Kepala sekolah memboncengkan dua siswanya sekaligus.
Sugondo menuturkan aktivitas antar jemput siswa tersebut sebenarnya sudah dilakukan oleh Kepala Sekolah sebelumnya. Di mana aktivitas antar jemput siswa ini sudah dilakukan sejak tahun 2008 yang lalu.
"Tahun 2016 ketika datang kemudian saya intensifkan lagi aktivitas antar jemput siswa," tutur dia, Kamis (14/7/2022).
Sugondo menuturkan, SD N 2 Kenteng ini melayani siswa dari 6 Padukuhan dan 4 di antaranya harus dilayani dengan antar jemput. Pasalnya jarak antara sekolah dengan Padukuhan tersebut cukup jauh. Di mana jaraknya mencapai 1,5 hingga 2,5 kilometer.
Padahal tidak semua orang tua memiliki kendaraan untuk mengantar anaknya sekolah. Tidak seperti saat ini di mana membeli sepeda motor sudah seperti membeli kerupuk. Tanpa membayar uang muka, sepeda motor bisa langsung didapat.
Pihak sekolah berinisiatif melakukan antar jemput karena atas keprihatinan mereka. Karena cukup banyak siswa yang berasal dari siswa tidak mampu. Para siswa terpaksa harus berjalan kaki menempuh jarak sejauh 1,5 hingga 2,5 kilometer.
"Karena jarak yang jauh ini maka sering membuat siswa malas. Dan dampaknya bisa membuat siswa putus sekolah," terangnya.
Kala itu, semua guru wajib untuk melakukan antar jemput sekolah terlebih dahulu. Bahkan guru yang paling jauh dari Bantul juga harus melakukan 'kewajiban' antar jemput tersebut. Meski menempuh jarak 62 kilometer ketika berangkat sekolah, guru tersebut tetap harus menjemput siswa sebelum sampai sekolah.
Di tahun 2019 yang lalu mereka mendapat bantuan mobil dari para donatur. Namun sebelum itu, SD ini telah mendapat bantuan sebuah sepeda motor Honda CB Versa. Dan kini kedua kendaraan tersebut masih digunakan untuk menjemput siswa.
Menurutnya, meski memudahkan antar jemput siswa namun memiliki mobil untuk antar jemput memang bukan persoalan yang gampang. Karena setiap hari mereka harus mengeluarkan biaya untuk operasional. Belum lagi pemeliharaan dan pajak tahunan.
"Itu berasal dari para guru, tidak sepeser pun berasal dari orang tua siswa. Seikhlas mereka, nanti untuk biaya operasional ataupun pemeliharaan dan juga pajak," terangnya.
Saat ini ada 23 siswa yang terpaksa harus diantar jemput. Masing-masing 15 siswa berasal dari Dusun Parampelan 1 dan Parampelan 2, 7 siswa dari Dusun Cermai dan 1 siswa dari Dusun Gebluk. Mulai pukul 06.00 WIB, sekolah telah melakukan penjemputan.
Ada 3 orang guru laki-laki dan seorang guru perempuan yang bergantian melakukan penjemputan di SD yang berjarak 25 kilometer dari ibukota Kabupaten Gunungkidul, Wonosari. Tak hanya antar jemput siswa, jika ada warga sekitar yang meminta bantuan diantar ke suatu tempat mereka akan melayani dengan senang hati.
Media ini lantas turut serta untuk aktivitas penjemputan tersebut. Dengan menggunakan mobil Grandmax bantuan dari donatur, aktivitas penjemputan mulai dilakukan. Untuk menuju ke lokasi para siswa memang harus menempuh yang menanjak.
Melewati jalan corblok yang licin dengan kontur jalan yang naik turun membuat kendaraan melaju perlahan. Hal ini menuntut sopir harus berjalan ekstra hati-hati. Jika tidak hati-hati maka ancamannya adalah masuk ke jurang.
Ketika sampai di lokasi penjemputan nampak anak-anak menyambutnya dengan gembira. Senyum lebar menyeruak di antara teriakan mengetahui kendaraan penjemput datang.
"Seringai senyuman para siswa ini menjadi obat bahagia guru yang menjemputnya," ujar penjaga malam yang setiap hari melakukan penjemputan, Wakiman.
