Komunitas 'Free Fly' Burung Paruh Bengkok Berkembang di Yogyakarta

Jogja Parrotdiningrat atau disingkat Jopar, sebuah komunitas penghobi burung 'free fly' Paruh Bengkok, kini makin berkembang di Yogyakarta. Fifaldy Adhar, salah seorang penggagas komunitas tersebut, mengatakan concern mereka adalah burung yang bertipe paruh bengkok.
Tipe burung yang dimiliki oleh anggota komunitas tersebut seperti Macaw Blue and Gold, Falk atau populer dengan sebutan parkit Australia, Nuri, dan Macaw Green Wing.
Para penghobi burung tersebut rela menghabiskan uang yang terbilang cukup besar. Pasalnya, salah satu burung termahal yang dimiliki anggota komunitas tersebut bisa mencapai puluhan juta rupiah.
"Untuk komunitas kami, yang paling mahal baru green wing makaw, harga satuannya 65 juta mas," kata Adhar saat ditemui di rooftop Lippo Plaza, Yogyakarta beberapa hari yang lalu.
Adhar mengaku tidak mudah untuk mendapatkan burung yang dimilikinya itu. Ia harus menunggu waktu yang terbilang cukup lama karena burung tersebut merupakan hasil impor dari luar negeri. "Burung green makaw ini kami impor, masuknya lewat Bandung atau Jakarta," ujarnya.
Ia meyakinkan bahwa burung-burung yang dipelihara anggota komunitasnya tersebut bukanlah burung-burung yang dilindungi oleh pemerintah.
Sebab, burung-burung tersebut merupakan hasil tangkaran yang diimpor dari luar. Selain itu, setiap burung itu memiliki identitas masing-masing dan lengkap. "Kalau mas cek disetiap burung ada ringnya dan disitu ada nomor sertifikatnya dan resmi," paparnya.
Namun, tidak semua burung yang dibelinya tersebut bisa terbang dan patuh. Butuh waktu berbulan-bulan untuk melatih agar burung tersebut bisa patuh terhadap pemiliknya.

Para anggota Komunitas 'Free Fly' Burung Paruh Bengkok melepas burung ke udara di Yogyakarta. Foto: Nadhir Attamimi/kumparan.com/tugujogja
Bukan tanpa alasan komunitas tersebut berdiri. Ia menuturkan, dengan adanya komunitas burung 'free fly' yang digelutinya itu, ia dan rekan-rekannya ingin menunjukkan kepada masyarakat luas untuk memelihara burung tidak melulu harus dikandangkan.
Menurutnya, cara yang dirinya dan teman-temannya lakukan itu mampu memberikan kebebasan untuk hewan-hewan di luar sana, salah satunya yakni burung.
"Kita bisa lihat kalau burung sudah percaya kepada manusia jadi tidak perlu sangkar, kalau burung tidak percaya dia enggak bakalan balik, Mas," ujarnya.
Selain Faldy, Marji Redhous memiliki anggapan yang sama. Dirinya banyak pelajaran yang didapatnya selama menggeluti dunia burung 'free fly',
Dengan waktu yang terbilang cukup lama itu, ia mengaku tidak hanya mendapatkan burung yang patuh, melainkan juga pelajaran yang berharga. "Kalau kita melihara burung, kita bisa jadi sabar pada diri sendiri dan menghadapi orang lain, lebih tenang dan juga lebih telaten," ujarnya.
Dirinya terbilang lebih lama menggeluti dunia burung paruh bengkok ketimbang Faldy, namun ia mulai mengikuti dunia burung 'free fly' baru-baru ini saja ketika komunitas Jopar mulai didirikan.
"Saya menggeluti dunia burung sudah 4 tahunan mas, di Jogja kan banyak komunitas 'free fly', tapi kalau 'free fly' ini baru saja pas Jopar didirikan," ujarnya.
Ia mengaku tertarik menggeluti hobi ini, karena banyak orang yang terkesan melihat bagaimana burung dan bisa kembali setelah dilepas. Itu seakan-akan memiliki keahlian lebih dari yang lainnya.
Ia pun memiliki harapan yang banyak bagi masyarakat khususnya masyarakat Indonesia untuk tidak lagi melakukan jual beli burung-burung yang dilindungi, sebab dengan begitu maka burung-burung yang terbilang langka bisa tetap berkembang.
"Tidak hanya burung langka, burung yang biasa juga mending tetap dikasih makan dan kalau perlu dijinakkan, seperti itu lebih indah daripada ditembak," tuturnya.
Jogja Parrotdiningrat atau Jopar didirikan oleh Faldy terhitung baru beberapa bulan pada tanggal 25 Februari 2018. Walaupun terbilang cukup baru, namun anggota yang terdaftar sudah mencapai 103 orang. Sedangkan di social media facebook Jopar mencapai 1000 pengikut.
"Kalau jadwal rutin kami di Alkid (Alun-alun Selatan) pada Minggu sore, kalau setiap harinya kami biasa mencari spot-spot yang bagus seperti di rooftop Lippo ini," tutup Faldy. (nadhir attamimi)
