News
·
3 Agustus 2020 12:16

Korban Pelecehan Modus Swinger di Jogja Temui Pelaku dan Tuntut Penjelasan

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Korban Pelecehan Modus Swinger di Jogja Temui Pelaku dan Tuntut Penjelasan (80145)
Ilustrasi. Foto: PEXELS.
Belum reda kasus Gilang fetish bungkus, kali ini di Jogja ada kejadian yang serupa. Berkedok riset, seorang mantan dosen bernama Bambang Arianto menjaring korban perempuan. Kepada korbannya, ia menceritakan praktik swinger yang katanya menjadi penelitiannya.
ADVERTISEMENT
Kasus ini pun tersimpan rapat hingga akhirnya salah seorang korban angkat bicara di Facebook dan mengunggah tulisan Dosen Swinger. Setelah postingan korban pelaku yang merupakan mantan dosen di Jogja mencuat, banyak pihak yang mengecam. Hal ini langsung ditanggapi oleh Bambang Arianto. Mengutip dari unggahan Illian Deta Arta Sari, yang merupakan salah satu korban, ia beserta beberapa orang menemui pelaku secara langsung.
"Hari Sabtu pelaku menulis permintaan maaf di FB, IG, Twitter setelah diminta Lely. Tapi dia berdalih penelitian. Hari Minggu (2 Agustus), aku ketemu. Orang itu Bambang Arianto namanya. Mantan dosen. Namanya sudah terbuka dengan tulisan dia sendiri itu," tulisnya pada Senin (3/8/2020) di akun Facebook pribadinya.
Dalam penuturannya rupanya pertemuan itu terjadi atas permintaan pelaku setelah tulisan korban ramai dan banyak yang mengutuk aksinya. Akhirnya melalui bantuan seorang penghubung, korban dipertemukan dengan pelaku.
Korban Pelecehan Modus Swinger di Jogja Temui Pelaku dan Tuntut Penjelasan (80146)
Informasi selengkapnya klik di sini.
Saat dikonfirmasi pada Illian, dia mengatakan alasannya tak lain adalah menuntut penjelasan sekaligus permohonan maaf. Hingga akhirnya ia sendiri yang mengambil video permohonan maaf secara langsung dari pelaku.
ADVERTISEMENT
"Ketemu karena dia mau minta maaf. Kami bertemu karena kami juga mau mendengar penjelasannya dan mau marah juga tentu," ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (3/8/2020).
Dalam cerita berikutnya, terungkaplah rupanya ada banyak perempuan yang menjadi sasaran dari sang pelaku. Korban yang memiliki sejumlah data dan sempat berhubungan dengan korban lainnya mencecra pelaku dan meminta penjelasan.
Yang mencengangkan, pelaku juga mengakui kepada korban bahwa perna mendatangi psikolog di Jogja dan melakukan onani.
"Dia tak menyangka kami punya data. Akhirnya dia tak bisa mengelak dengan dalih penelitian. 'Iya saya salah mbak,' katanya. Kami konfrontir kelakuannya, termasuk apakah benar mendatangi psikolog puskesmas di Sleman dan onani di depan psikolog itu dan menyasar beberapa psikolog lain. Dia membenarkan," tulis dia.
ADVERTISEMENT