Kualitas Udara di Yogyakarta Membaik saat Pandemi Corona

Kualitas udara di DIY dilaporkan mengalami peningkatan. Hal ini rupanya menjadi dampak imbauan dari Pemda DIY pada warga untuk mengurangi kegiatan di luar rumah karena adanya pandemi corona.
Saat ini kualitas udara di DIY berada dalam tataran hijau (baik) di mana sebelumnya berada dalam tataran biru atau sedang. Hal ini diungkapkan oleh Sutarto, Kepala DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) DIY. Ia menyebut data Air Quality Monitoring System (AQMS) untuk wilayah perkotaan Yogyakarta bisa membaca pada merata radius 4 kilometer dari kantor DLHK.
“Sebelum isu COVID-19 ini (udara) kita berada pada posisi biru. Tapi sejalan berkurangnya aktivitas masyarakat menggunakan moda kendaraan sekarang pada posisi hijau dengan kata lain, lebih baik kualitas udara ambient/luar kita. Parameter CO bersumber utama dari asap sementara PM itu indikator partikel debu juga lebih baik,” kata Sutarto, Senin (6/4/2020).
Membaiknya kondisi udara di perkotaan Kota Yogyakarta menjadi indikator pula di daerah sekitar meliputi empat kabupaten lainnya di DIY. Ia menarik kesimpulan jika kondisi udara di perkotaan baik, bisa jadi kondisi di kabupaten luar kota Jogja juga baik.
"Data kondisi AQMS di perkotaan yang baik ini berarti di kabupaten luar Kota Yogyakarta juga lebih baik lagi,” sambung dia.
Sebelumnya, peneliti Deep Learning dan Sistem Cerdas Universitas Brawijaya Malang, Novanto Yudistira memaparkan hasil penelitiannya bahwa terdapat keterkaitan antara sinar Ultraviolet dan polusi udara pada penyebaran Virus Corona. Dalam paparan penelitian itu disebutkan semakin tinggi limpahan Sinar Ultraviolet dan minimnya polusi udara dinilai membuat virus semakin sulit menyebar.
Novanto dalam penelitiannya menyebut contoh kasus terlihat di Italia bagian utara. Kondisi negara tersebut pada Januari hingga Maret 2020 memiliki tingkat polusinya meninggi ditambah kurangnya suplai Ultraviolet karena musim dingin membuat jumlah orang terjangkit pandemi Corona meningkat. Ultraviolet melimpah pun dinilai menjadi keuntungan Indonesia yang membuat penyebaran Corona tak seeksklusif negara-negara iklim subtropis.
“Namun catatan pentingnya, adanya polusi udara tinggi juga patut menjadi perhatian karena bisa mempengaruhi penyebaran Virus Corona tersebut,” kata Novanto.
-----------------------
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
