kumparan
KONTEN PUBLISHER
4 Desember 2019 22:59

Lahan Pertanian Menyusut, Lumbung Beras Diluncurkan di Blora

lumbung beras.jpeg
Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang diluncurkan di Blora, Rabu (4/12/2019). Foto: Istimewa.
Keberadaan lahan pertanian di Indonesia tak lagi seluas seperti dahulu kala. Lahan pertanian yang seharusnya bisa ditanam berbagai macam tanaman seperti padi, kini terganti oleh bangunan. Hal ini menyebabkan beras menjadi sulit didapat di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan pembuatan lumbung beras.
ADVERTISEMENT
“(Lumbung Beras) menjadi jawaban dari terus menyusutnya lahan sawah yang sekaligus membuat semakin sulitnya beras untuk didapat,” ujar Ketua Dewan Pembiina ACT, Ahyudin, saat peluncuran Lumbung Beras Wakaf di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Rabu (4/12/2019).
lumbung.jpeg
Pengguntingan pita tanda di buka nya lumbung wakaf oleh presiden ACT beserta dg jajaran pemerintahan setempat, Rabu (4/12/2019). Foto: Istimewa.
Menurut data Kementerian Agraria dan Tata Ruang menunjukkan dalam enam tahun terakhir (2013-2018) luas baku sawah secara nasional menyusut cukup signifikan, 8,32% atau sekitar 645 ribu hektar. Sedangkan luas area cetak sawah baru pada 2014-2018 hanya sekitar 215 ribu hektar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut luas lahan pada 2018 tinggal 7,1 juta hektar, turun dibanding 2017 yang masih 7,75 juta hektar. Dengan kondisi Indonesia berada di urutan 73 di dunia dengan tingkat kelaparan kategori serius, 10,8 juta penduduk miskin kategori ekstrim, dan 2,02% kenaikan harga bahan pangan di tahun 2019.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut mampu mengancam ketahanan pangan nasional. Keberadaan lumbung beras ini beras diharapkan mampu mencukupi kebutuhan para warga yang tinggal di sekitar lumbung beras. Tak hanya itu, tetapi juga untuk mendapatkan beras yang berkualitas dari petani lokal.
“Dengan tanah kelola seluas 98 ha di Blora, program Lumbung Beras Wakaf (sub-program LPW) akan mendukung beberapa program pangan,” kata Direktur Program ACT, Wahyu Novyan.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan