Lestarikan Permainan Tradisional, Ratusan Layang-layang Hiasi Langit Sleman
ยทwaktu baca 3 menit

Layang-layang merupakan salah satu permainan tradisional bagi anak-anak dan remaja. Namun sayangnya eksistensi permainan masa kecil di era yang serba digital ini perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda, padahal bentuk dan motif layangan itu bisa menjadi representatif tradisional yang dimiliki dari suatu daerah.
Untuk kembali melestarikannya, salah satu komunitas yakni Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Sleman kini menggelar perlombaan yang mengkolaborasikan layangan kreasi, tradisional dan aduan di Lapangan Sumberarum Setran, Kalurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Minggu (4/6/2023).
Ketua Panitia acara kolaborasi layangan kreasi, tradisional dan aduan Kabupaten Sleman, Soni Nur Riyanto mengatakan ada ratusan layangan dengan ragam bentuk dan motif, baik tradisional maupun modern turut menghiasi langit Kabupaten Sleman pada siang hari ini.
"Dari kuota yang kita sediakan itu ada 200 kuota, itu 100 dan di aduan 100 ada di tradisional dan kreasi," kata Ketua Panitia acara kolaborasi layangan kreasi, tradisional dan aduan Kabupaten Sleman, Soni Nur Riyanto, Minggu (4/6/2023).
Soni menyebut festival ini akan menjadi ruang sekaligus tempat bagi masyarakat khususnya para pecinta layang-layang, dalam merawat dan mengenalkan budaya asli daerah kepada generasi muda.
Apalagi, ia tak menepis bahwa derasnya arus teknologi dan informasi yang masuk sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat saat ini lebih-lebih para pemudanya. Oleh karena itu, melalui festival layang-layang ini sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan bakat, kreasi dan potensi generasi muda serta untuk mengembangkan kecintaan dan sekaligus apresiasi bagi mereka yang menyukai layang-layang.
"Diharapkan ke depan, masyarakat lebih tahu ciri khas layang-layang Yogya dan muncul pencinta layang-layang yang baru. Jangan sampai budaya layang-layang di daerah itu hilang," ujarnya.
"Karena melestarikan permainan tradisional itu sangat penting ya. Dari permainan tradisional itu, masyarakat terutama anak-anak bisa belajar menjalankan kekompakan dan kesabaran yang kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," sambungnya.
Adapun peserta layangan yang berpartisipasi dalam perlombaan kali ini diikuti oleh masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Yogyakarta. Layangan yang diperlombakan berupa layangan kreasi, tradisional dan aduan dengan ukuran minimal 1,5 meter dan layangan tradisional dengan ukuran minimal 1 meter.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya mengapresiasi pelaksanan festival tersebut, pasalnya bisa menjadi bagian untuk meningkatkan pariwisata di Kabupaten Sleman utamanya di Kabupaten Sleman bagian Barat.
Harda kemudian mengajak semua masyarakat, agar bersama-sama menjaga kelestarian layang-layang dan meningkatkan kecintaannya terhadap permainan tradisional.
"Mudah-mudahan event itu bisa terus berjalan pada setiap tahunnya, sehingga pariwisata di Kabupaten Sleman terus berkembang," katanya.
Salah satu peserta dari Grup Pecinta Layangan Jogja (GPLG), Eko Suseno mengatakan antusias mengikuti perlombaan layangan tersebut. Ia dan tim membawa 9 layangan dengan motif tradisional yang berbeda-beda.
"Kalau ini persiapan nya 3 Minggu untuk membuatnya. Saya membawa layangan Gunung Merapi, yang dikriteria kan layangan tradisional. Untuk kami bawanya sekitar 9 layanan jadi bermacam-macam jenis," pungkasnya
