Konten Media Partner

Linda, Satu-satunya Pemotor Sport Bercadar di Yogyakarta

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Cadar kini tengah menjadi kontroversi di negeri ini. Hal ini berawal dari kebijakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang melarang mahasiswinya menggunakan tudung muka tersebut. Sejumlah kalangan bahkan memprotes keputusan rektor tersebut.

Linda, Satu-satunya Pemotor Sport Bercadar di Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar

Cadar memang biasanya identik dengan wanita muslimah yang lemah lembut, dengan hobi yang juga mengarah ke kodratnya sebagai wanita.

Namun tidak bagi Herlinda Ira Wulandari. Wanita berumur 30 tahun ini justru memiliki hobi yang mungkin dianggap nyleneh bagi wanita bercadar. Sebab, wanita yang tinggal di Desa Kepanjen Dusun Jaranan, Desa Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kab Bantul ini justru sangat mencintai hobinya memacu motor sport.

Herlinda Ira Wulandari atau di kalangan anak motor lebih dikenal sebagai Lindabira Wulandari ini gemar menggeber Honda CBR 250-nya ke berbagai kota. Touring adalah menjadi menu wajib baginya setiap dua minggu sekali.

Linda, Satu-satunya Pemotor Sport Bercadar di Yogyakarta (1)
zoom-in-whitePerbesar

Linda, panggilan akrabnya, memang gemar naik motor sport sejak SMA. Menggunakan motor kesayangan ayahnya dulu, Linda sudah berkeliling hampir seluruh kota di Jawa. Bahkan dengan motor sport miliknya saat ini, Linda pernah solo touring ke Surabaya. "Lady bikers adalah panggilan jiwa. Meskipun saya kini telah berhijab dan bercadar tetapi mengendarai motor sport tak bisa saya tinggalkan," ujar Linda.

Tergabung dalam Jogja CBR Riders Independent (JCRI) dan Wirosaban Rider Club (WRC), Linda selalu terlibat kegiatan di dua komunitas motor sport ini. Hampir setiap Sabtu malam, ia tidak pernah absen turut hadir dalam kopi darat (kopdar) di Alun-Alun Utara.

Dengan mengedepankan visi kekeluargaan, toleransi dan sosial masyarakat serta mengusung misi mempererat silaturahmi antar anggota dan club lain, Linda bersama kawan-kawan komunitas motor berusaha menyatukan persaudaraan tanpa membedakan. "Kami berusaha mengubah stigma masyarakat tentang club motor yang urakan. Tambah lagi sekarang saya sudah berhijab, saya ingin menunjukkan bahwa ada lady bikers muslimah," tandasnya.

Berbagai kegiatan sosial sering dilakukan Linda bersama teman-temannya. Coret-coret (memberi tanda) jalan berlubang agar tidak ada korban jatuh, menambal, dan menyemen jalan yang berlubang, serta sahur on the road dengan membagikan nasi bungkus kepada kaum duafa sering mereka lakukan.

Tak hanya itu, kegiatan buka bersama anak yatim dan duafa, memberi bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor serta rolling peduli sesama, berbagi nasi untuk tuna wisma, duafa, tukang becak dan para pekerja malam menjadi menu wajib Linda bersama teman-teman komunitas motornya.

"Tujuan kami, ingin menunjukan kepada masyarakat dan mengubah pandangan masyarakat tentang club motor. Karena saat ini masyarakat sering berpikir negatif kepada club motor, pandangan mereka seperti yang ada di sinetron televisi bahwa club motor hanya bisa kebut-kebutan, berkelahi dan lain-lain. Untuk itu kami dari JCRI melakukan aksi nyata bersosial dan menjadi contoh safety reading di jalanan, tertib dalam berlalu lintas sehingga tidak membahayakan pengguna jalan yang lain," paparnya.

Linda, Satu-satunya Pemotor Sport Bercadar di Yogyakarta (2)
zoom-in-whitePerbesar

Linda pun tak segan untuk menaati aturan rutin yang selalu diterapkan kepada anggota JCRI yaitu hukuman push up kepada anggota yang tidak safety seperti memakai jaket atau sepatu, atau celana panjang, helm atau tidak membawa surat kendaraan seperti SIM dan STNK atau spion.

Meskipun berhijab dan bercadar, namun Linda mengaku tidak pernah mendapat penolakan dari teman-temannya sesama pecinta motor sport. Bahkan teman-temannya juga sangat mendukung langkahnya tersebut. Hanya saja, ia memang memiliki batasan tertentu yang harus ditaati ketika bergaul dengan cowok sesama pecinta motor sport.

"Mamah juga ngedukung banget kok. Besok bulan lima gas Jogja-Surabaya-Malang-Jogja," jawabnya.

Ketua JCRI Ferdy Yuniarto mengaku ia bersama 61 anggota lainnya tidak mempermasalahkan keberadaan Linda di klub mereka. Bahkan, Linda sering mengingatkan anggota lain yang lupa akan kewajiban ibadah mereka. (erl)