Konten Media Partner

Ma'ruf Amin Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di Jogja

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat hadiri Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022 dipusatkan di di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) MBS Yogyakarta, Senin (24/10/2022). Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat hadiri Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022 dipusatkan di di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) MBS Yogyakarta, Senin (24/10/2022). Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022 dipusatkan di di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) MBS Yogyakarta yang berada di Kecamatan Prambanan, Senin (24/10/2022). Nampak hadir Wakil Presiden Kyai Ma'ruf Amin beserta istrinya.

Ribuan santri Pondok Pesantren Muhammadiyah menghadiri acara ini. Nampak hadir juga Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Paku Alam (KGPA) ke X dan juga Mantan Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas dan juga Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukkan pencak silat, paduan suara hingga Tari Samen. Tari yang dimainkan para santri ini konon akan berlaga di ajang internasional di Singapura beberapa pekan ke depan.

Wapres Ma'ruf Amin menuturkan pemerintah menetapkan Hari Santri Nasional untuk menghargai peran santri dalam masa kemerdekaan. Di mana santri saat itu mengorbankan jiwa raga mereka.

"Itu harus menjadi tauladan bagi kita semua. Semangat santri di masa kemerdekaan diharapkan juga bisa menjadi tauladan santri sekarang dan yang akan datang," kata dia.

Dulu para santri memiliki semangat Hizbul Waton atau cinta tanah air. Di mana semangat tersebut dulu mampu melahirkan laskar-laskar santri yang berjuang untuk kemerdekaan RI.

kumparan post embed

Para santri juga menginisiasi fatwa jihad mengusir penjajah. Di mana kala itu, para santri dan kalangan pondok pesantren juga berperan dalam menyusun kesepakatan nasional yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan UUD 45.

"Seperti dicontohkan pemimpin mereka, Kyai Hasyim Asy'ari dan Kyai Ahmad Dahlan yang berjuang pada masa hidupnya,"kata dia

Kedua tokoh ini berjuang demi kemerdekaan bangsa. Keduanya juga membuat tempat atau wadah untuk mengakomodir pengikutnya. Keduanya menginisiasi terbentuknya suatu organisasi untuk pengikutnya yaitu NU dan Muhammadiyah.

"Dua organisasi adalah warisan yang sangat baik bagi keduanya tempat mengabdikan diri,"kata dia.

Menurut Ma'ruf, Muhammadiyah Boarding Scholl (MBS) merupakan warisan dari pengaruh KH Ahmad Dahlan. Jika KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan disebut Mujahidin yaitu pejuang yang melahirkan kemerdekaan, maka santri sekarang harus menjadi Mujahidin dalam bentuk lain.

Mujahidin sekarang adalah menjaga kesepakatan nasional yaitu NKRI, Pancasila dan UUD 45 atau hal yang menjadi dasar berbangsa dan bernegara. Santri sekarang harus menauladani semangat dua tokoh besar tersebut.

"Negara didirikan berdasarkan kesepakatan nasional dari semua elemen bangsa dan santri serta tokoh santri yang mengambil bagian dalam penyusunan konstitusi bangsa ini. Oleh karena itu saya menamakan negara ini sebagai Darul Nifa atau negara kesepakatan atau darul ahli wasahadi,"tambahnya.

Ma'ruf menandaskan bangsa ini tidak boleh melanggar kesepakatan. Dan mengawal kesepakatan nasional itu merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan semua warga negara termasuk para santri.

" mengawal kesepakatan naisonal tidak bertentangan dengan semangat memenuhi janji kepada Alloh SWT,"tandasnya.

Wakil Gubernur DIY, KGPA X menambahkan guna merealisasikan martabat manusia maka harus refleksi krisis yaitu sesuai sila kedua Pancasila. Ketika bangsa menyadari betapa pentingnya transformasi budaya bangsa dalam terminologinya menggaungkan revolusi mental seperti yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

"Santri sekarang harus menjadi santri yang berkemajuan demi membangun bangsa ini,"kata dia.