Masjid Sunan Kalijaga Girikarto, Tempat Warga Meminta Hujan saat Kemarau Panjang
ยทwaktu baca 5 menit

Sunan Kalijaga, dikenal sebagai salah satu Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Sunan Kalijaga lebih dikenal menyebarkan agama Islam dengan mengemas menjadi sebuah tradisi di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga berkeliling ke Jawa Tengah dan DIY berdakwah. Beliau selalu berkelana dalam menyebarkan agama Islam dari satu tempat ke tempat lain. Di setiap tempat yang singgahi, ia selalu mendirikan sebuah bangunan untuk sholat baik itu musholla ataupun masjid.
Meskipun sederhana bangunan-bangunan tersebut berubah menjadi pusat dakwah kala itu. Apa yang dilakukan dan apa yang menjadi pesan Sunan Kalijaga ini masih dipercaya oleh masyarakat bahkan hingga kini.
Salah satunya adalah Masjid Sunan Kalijaga di Padukuhan Doplang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Masjid yang awalnya hanya bangunan berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah dipercaya memiliki berkah dari tempat tersebut.
Masjid yang untuk menjangkaunya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam menit menggunakan sepeda motor dari Keraton Ngayogyakarta Hadingrat ini dipercaya menjadi tempat yang mustajab untuk meminta hujan kepada Allah SWT ketika kemarau panjang melanda wilayah Gunungkidul.
Letak masjid ini sebenarnya tak begitu jauh dari obyek wisata yang tengah ngehits, HeHa Ocean View ataupun Teras Kaca serta Pantai Gesing yang bakal dibangun jadi pelabuhan besar. Jaraknya hanya sekitar 1 km dari obyek wisata tersebut.
Ketua Takmir Masjid Sunan Kalijaga Doplang, Sumardini membenarkan jika 80 persen masyarakat Girikarto yang selalu melakukan 'pinuwunan' (upacara) Selamatan meminta hujan. 6 dari 8 padukuhan di Girikarto selalu memanjatkan doa kenduri Ingkung Pengaron ketika musim kemarau berlangsung sangat lama.
"Terakhir kayaknya 2019 atau 2018 kalau ndak salah,"tutur dia, Minggu (10/4/2022).
Berdiri di atas tanah Sultan Ground, awalnya bangunan utama masjid ini seluas 8 x 8 meter hanya berdinding anyaman bambu dengan alas dari tanah berdebu. Namun tiga tahun lalu, masyarakat memperluas bangunan dengan menambah serambi ukuran 6x8 meter dan teras 2x8 meter.
Ada 4 soko (tiang) kayu jati di tengah bangunan utama masjid tersebut. Keberadaan 4 tiang ini menjadi penegas jika masjid ini berarsitek Jawa. Tinggi tiang tersebut adalah 3,5 meter namun kemudian ditambah menjadi 4,5 meter unruk kenyamaan jamaah.
"Penggantian tiang tersebut juga bersamaan dengan penambahan Serambi dan Teras Masjid," terangnya.
Salah satu yang masih dipercaya oleh hampir semua warga Girikarto dan sekitarnya, masjid ini adalah tempat untuk melakukan 'ritual' selamatan meminta hujan ketika musim kemarau berkepanjangan. Ketika musim kemarau berkepanjangan maka warga 6 padukuhan menggelar upacara kenduri ingkung yang diletakkan di dalam pengaron (tempayan dari tanah liat).
Bahkan karena kepercayaan itulah, masjid justru awalnya tidak difungsikan sebagai tempat sholat atau mengaji. Awalnya masyarakat setempat mensakralkan masjid tersebut dan baru dua dekade ini masjid tersebut digunakan sebagaimana fungsinya.
Lurah Girikarto, Sumardiyono membenarkan jika masjid tersebut masih disakralkan oleh masyarakat setempat. Masjid Sunan Kalijaga ini juga terkenal sebagai tempat untuk memohon kepada yang Maha Kuasa jika akan memiliki hajat tertentu.
"Saya sendiri membuktikannya. Sebelum pilihan lurah kemarin saya sowan ke sana," tuturnya.
Berdasarkan cerita kakek buyutnya, Sumardiyono menuturkan masjid tersebut awalnya didirikan oleh Sunan Kalijaga di tepi sungai dan kini sungainya telah hilang. Pada suatu ketika seluruh Kalurahan Girikarto terbakar. Meski jarak antar rumah kala itu masih berjauhan, namun semuanya terbakar.
Anehnya yang tidak terbakar hanyalah masjid dan sebuah kentongan besar yang terbuat dari kayu. Kentongan tersebut digunakan oleh salah seorang warga untuk bersembunyi dari kobaran api. Dan orang tersebut selamat dari amukan si jago merah.
"Saat kebakaran itu kubahnya secara ghaib berpindah ke masjid di Kalurahan Girisekar sana," tutur dia.
Masjid tersebut memang dikenal sebagai tempat Pinuwunan. Bahkan awalnya masjid tersebut tidak ada yang berani menjamahnya. Warga masih menganggap masjid tersebut sebagai tempat yang wingit (angker) dan hanya digunakan ketika melakukan 'pinuwunan'.
Dulu, di bawah salah satu tiang bagian kiri belakang terdapat gundukan bekas pembakaran menyan. Namun belum lama ini atau sejak masjid direnovasi gundukan bekas bebakaran menyan tersebut dihilangkan. Meski terkadang masih ada yang datang melakukan 'pinuwunan' namun mereka membakar menyan dengan alas bekas genteng ataupun cobek.
"Sesekali masih ada yang bakar menyan. Tapi sekarang langsung dibuang bekas bakaran menyannya," terang dia.
Sebenarnya hal tersebut tidak lepas dari pesan Sunan Kalijaga yang mengatakan jika kemarau panjang maka panjatkan doa di masjid tersebut agar Alloh SWT segera menurunkan hujan. Dan hingga kini Masjid Sunan Kalijaga masih merupakan tempat Pinuwunan (memanjatkan doa) agar hajatnya terkabul.
Salah satunya adalah masyarakat 6 padukuhan di Kalurahan Girikarto di antaranya Dawung, Wiloso Pundung, Karang, Beduk dan Doplang masih menggelar upacara agar segera turun hujan ketika kemarau berlangsung cukup lama.
"Mereka akan menggelar upacara kenduri ayam ingkung yang diletakkan di dalam Pengaron,"terangnya.
Masing-masing padukuhan membawa 1 paket ayam ingkung dan setelah berdoa, makanan tersebut dibagi dan kemudian dinikmati bersama. Biasanya usai doa bersama maka hujan tersebut akan segera turun.
Pengaron memang menjadi ciri khas masjid tersebut karena sebelum direnovasi, kubah masjid tersebut hanyalah pengaron yang dipasang terbalik untuk menutup ujung atap masjid. Namun usai dipasang kubah dari aluminium, pengaron tersebut kini masih diletakkan di atas tempat imam berdiri (pengimaman).
Namun kini, masjid tersebut sudah banyak digunakan untuk kegiatan keagamaan masyarakat. Meskipun masih ada yang menganggap wingit namun masjid tersebut sudah menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
