Konten Media Partner

Melihat Rumah Mantan Bupati Gunungkidul ke-18 yang Megah pada Zamannya

Tugu Jogjaverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi rumah mantan Bupati Gunungkidul ke-18 yang masih berdiri di Ponjong, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi rumah mantan Bupati Gunungkidul ke-18 yang masih berdiri di Ponjong, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja.

Bangunan tua yang kondisinya sudah miring di Kapanewonan Ponjong, Gunungkidul, belakangan viral di media sosial. Bangunan tua yang ternyata adalah rumah milik mendiang Bupati Gunungkidul ke-18, Pawiro Suwignyo. Pawiro Suwignyo merupakan bupati hasil pilihan DPRD Gunungkidul sebelum pemilihan langsung.

Tugu Jogja mencoba berkunjung ke lokasi rumah tersebut di Padukuhan Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewonan Ponjong, Gunungkidul. Bangunan mirip arsitektur Belanda itu kini sudah mulai lapuk karena dimakan usia. Kondisinya sudah miring dan di dalamnya sudah banyak tiang-tiang kecil untuk mencegah agar bangunan tersebut tidak roboh.

Warga yang tinggal di depan rumah tersebut, Suyono (60) mengungkapkan sudah puluhan tahun rumah tersebut sudah tidak ditinggali. Sebab ahli waris pemilik rumah tersebut sudah pindah ke Surabaya, Jawa Timur. Mereka telah sukses meniti karier di Jawa Timur sehingga memutuskan untuk pindah ke kota Pahlawan tersebut.

Dulunya, lanjut Suyono, rumah tersebut adalah rumah yang paling bagus dan megah sekecamatan Ponjong. Rumah tersebut dulu ditinggali oleh keluarga Bupati Pawiro Suwignyo. Di mana Pawiro Suwignyo sendiri memiliki 3 orang anak Sucipto, Suroyo, dan Asri Subaryati. Dulu, di sekeliling tersebut banyak terdapat pohon kelapa menjulang.

"Rumahnya rapi. Saya tidak pernah masuk, ndak berani," ujarnya, Minggu (27/9/2020) saat ditemui di rumahnya.

Ia sendiri tak banyak mengerti bangunan tersebut banyak berkurang. Karena dulunya rumah tersebut terdiri dari 3 bangunan yaitu bangunan depan, belakang dan samping kiri. Rumah bagian depan adalah bangunan yang kini tersisa. Kemudian ada bangunan bagian belakang yang berasitektur Limasan.

Kondisi rumah mantan Bupati Gunungkidul ke-18 yang masih berdiri di Ponjong, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja.

Di mana ada sela (longkangan) sekitar 4 meter antara bangunan belakang dan depan. Kemudian ada bangunan kiri yang letaknya memanjang dari depan ke belakang. Dan ada sebuah sumur yang terletak di bagian belakang bangunan tersebut.

"Yang sisi kiri itu dirobohkan. Belum begitu lama," katanya.

Tugu Jogja lantas ke rumah kerabat bupati tersebut. Adalah Rokib (76) pensiunan polisi ini keponakan dari Pawiro Suwignyo yang juga tinggal tak jauh dari rumah tersebut. Dia juga yang dipercaya menjaga dan mengelola rumah tersebut. Meski demikian, ia tidak berani menyentuh barang-barang yang ada di rumah tersebut.

Rokib menuturkan, rumah tersebut yang masih tersisa hanyalah bagian depan dan ukurannya tinggal 9x6 meter saja. Sebelumnya ada beberapa bagian rumah yang masih ada namun telah roboh dan dirobohkan. Terakhir adalah bangunan sebelah kiri yang terpaksa dijual karena membahayakan.

"Atas kesepakatan keluarga, bangunan sisi kiri dijual untuk membangun balai padukuhan Tanggul Angin," ujar Rokib ketika ditemui di rumahnya.

Bangunan rumah bupati Pawiro Suwignyo tersebut berdiri di tanah seluas 4.000 meter persegi. Oleh Pawiro Suwignyo lantas dibagi menjadi 3 bagian masing-masing untuk ketiga anaknya. Namun usai sepeninggal mantan bupati tersebut, seluruh bagian tanah dibeli oleh Asri Subaryati.

Ia sendiri pernah tinggal di rumah tersebut kala tahun 1948. Di mana kala itu ayahnya diminta untuk menunggu rumah tersebut karena pemiliknya, Asri Subaryati pernah harus pindah tugas menjadi Guru di Solo Jawa Tengah. Di rumah tersebut ada istri dari Pawiro Suwignyo dan seorang cucunya Martanty Soenar Dewi yang kini maju menjadi calon wakil bupati mendampingi Immawan Wahyudi

Kondisi rumah mantan Bupati Gunungkidul ke-18 yang masih berdiri di Ponjong, Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja.

"Martanty itu tanggal lahirnya sama dengan ibunya. Nah menurut tradisi Jawa, ia harus dipisah dengan ibunya, sehingga Martanty tinggal di rumah tersebut bersama eyangnya. Sementara ibunya di Jawa Timur sukses berkarir dan menjabat ketua DPRD Jawa Timur," terangnya.

Sejak Martanty lulus SMP, wanita ini pindah ke Surabaya bersama ibunya dan sang Nenek, Ny Pawiro Suwignyo juga diajak serta ke Jawa Timur karena memang usianya sudah tidak muda lagi. Sejak saat itu, rumah tersebut tidak pernah ditinggali lagi. Tak ada yang merawatnya karena Rohib sendiri tak ada di padukuhan tersebut karena terus berpindah.

"Saya pernah tugas di Papua. Jadi tidak pernah ke sini," tambahnya.

Bangunan tersebut sebenarnya sudah ada 'penunggunya' bahkan sejak masih ditinggali oleh keluarga Pawiro Suwignyo. Rohib bercerita dulu pembantunya pernah diangkat keluar rumah ketika tengah terlelap. Tak hanya itu, ada seorang guru yang mengontrak rumah tersebut juga mengalami nasib yang sama.

Kini, setelah sempat viral di media sosial rumah ini mulai banyak yang berkunjung sekedar untuk foto-foto. Pihak keluarga sendiri sebenarnya berencana ingin merobohkan bangunan lama tersebut dan menggantinya dengan yang baru, meskipun juga bangunan klasik.