Mencicipi Sate Tuna Pertama di Jogja
·waktu baca 1 menit

Pandemi corona tak menghalangi kreatifitas para pengusaha kuliner untuk bertahan di tengah pandemi corona. Tak sedikit pengusaha yang membuka usaha kuliner baru nan unik di tengah pandemi corona.
Di Yogyakarta ada berbagai macam jenis sate. Mulai dari sate ayam, sate daging sapi, sate klathak (daging kambing), dan lain sebagainya. Namun, belum ada yang memanfaatkan daging ikan sebagai bahan utama sate.
Melihat peluang ini, seorang pemuda di Yogyakarta menawarkan kuliner sate tuna dengan cita rasa yang berbeda dari sate pada umumnya. Tak hanya dari bahan utamanya saja yang berbeda, bumbu yang digunakan untuk membalur sate tuna tersebut juga bukan bumbu kacang.
“Kita lihat peluang di Jogja. Meskipun keadaannya sekarang pandemi corona, orang tetap butuh makan,” ujar Rendi, owner Sate Tuna (SATU).
Tak sekadar sate tuna biasa, ia memadukan bumbu dari Sulawesi dan Jepang untuk menambah cita rasa dari sate tuna tersebut. Bumbu iloni khas Sulawesi menjadi salah satu bumbu yang ditawarkan dalam sate tuna miliknya. Selain itu, untuk menambah kesan kekinian pada sate tuna, ia memberikan bumbu mentai yang bisa dipilih oleh pelanggan.
“Tuna itu kan juga identik dengan makanan jepang, jadi ada sambal mentai untuk lidah internasional bisa cobain,” ujarnya.
Minimnya kuliner olahan tuna di Yogyakarta membuatnya tergerak untuk menambah ragam kuliner yang ada. Di Yogyakarta sendiri ia mengakui masih jarang ditemukan olahan dari daging ikat tuna. Hal inilah yang membuatnya berani membuka usaha kuliner di tengah pandemi.
“Kita mendukung program pemerintah untuk makan ikan. Di era pandemi in ikan makanan itu penting agar imun makin kuat,” ujarnya.
