Mendekati Lebaran, Rombongan Pemudik Datang ke Gunungkidul dengan Travel

Mendekati lebaran arus pemudik yang masuk ke Kabupaten Gunungkidul tak terbendung. Meskipun di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, namun ternyata masih ada saja warga Gunungkidul yang mudik. Alasannya, karena ingin merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman.
Jumlah pemudik yang berdatangan terus bertambah hampir di seluruh wilayah Gunungkidul. Tak sedikit dari para pemudik yang datang ke wilayah Gunungkidul dengan cara rombongan dengan mobil travel, yang dinilai lebih nyaman dan lebih murah.
Seperti yang ada di Desa Botodayakan, Kecamatan Rongkop. Jumlah pemudik yang masuk ke desa ini terus bertambah. Bahkan mendekati lebaran ini, jumlah pemudik yang masuk ke desa ini semakin meningkat. Pemerintah desa setempat kemudian memperketat penerapan anjuran pemerintah berkaitan dengan protokol kesehatan.
Sekretaris Desa Botodayakan, Agung, mengatakan hari Sabtu lalu ada 27 rombongan pemudik dari Jakarta yang masuk ke Desa Botodayakan. Mereka merupakan pekerja di ibu kota, namun karena kondisi yang sulit sekarang dan mendekati lebaran mereka memilih untuk kembali ke kampung dengan menyewa sebuah bus untuk mengantarkan sampai di Botodayakan.
"Kami, Pemerintah desa dan relawan kemudian bergerak, melakukan pengecekan serta pendataan bagi para pemudik itu. Sudah kami data sejak awal kepulangan mereka, kaki iuga koordinasi dengan medis untuk cek kondisi," kata Agung, Selasa (19/5/2020).
Protokol kesehatan pagi para pemudik ini tetap diberlakukan, mulai dari cek kondisi kesehatan, melapor ke pemerintah desa dan melakukan karantina selama 14 hari. Sesuai dengan anjuran pemerintah, para pemudik tersebut kemudian diminta untuk melakukan karantina selama 14 hari.
Dalam karantina yang sekarang dijalani, mereka terbagi di beberapa tempat. Ada yang 8 orang memanfaatkan satu rumah, ada yang karantina mandiri, dan ada pula satu rumah yang dihuni oleh 3-4 orang. Selama 14 hari mereka harus menjalani karantina, jika ada keluhan pihaknya langsung koordinasi dengan puskesmas.
"Tapi Alhamdulillah sampai sekarang belum ada keluhan. Nantinya, lebaran pun mereka harus tetap di rumah karantina, untuk interaksi dengan pihak keluarga tentu terbatas. Mereka sudah diedukasi dan diberi pengertian, lebaran seadanya di rumah karantina dan mereka memahami itu demi keluarga," imbuh Agung.
Sementara untuk pemenuhan kebutuhan para pemudik itu mulai dari kebutuhan logistik dan lainnya ditanggung oleh keluarga masing-masing. Toleransi dan solidaritas masyarakat sekitar pun dianggap luar biasa, mereka juga saling membantu. Dari pemdes terus melakukan pemantauan dan pengecekan secara berkala.
"Untuk total pemudik sekitar 169 orang di Desa kami," sambungnya.
Kepala Dinas Komunikasi Dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul, Kelik Yunianto mengakui jika arus mudik masih berlangsung hingga saat ini. Hingga hari Senin (19/5/2020) kemarin, pihaknya telah mencatat jumlah pemudik sebanyak 13.358 orang. Jumlah tersebut didominasi oleh pemudik asal Jakarta sehingga pihaknya terus berupaya menekankan ke pihak desa untuk memperketat protokol kesehatan.
"Kita selalu menghimbau kepada pemerintah desa untuk memperketat pengawasan dan protokol kesehatannya," paparnya.
