Food & Travel
·
4 November 2019 20:45

Mengenal Gamelan Sekati yang Hanya Dimainkan Saat Sekaten

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Mengenal Gamelan Sekati yang Hanya Dimainkan Saat Sekaten (159154)
Abdi Dalem Keraton Yogyakarta sedang memainkan Gamelan. Foto: Istimewa.
Sekaten merupakan acara tahunan yang paling ditunggu oleh warga Yogyakarta. Biasanya sekaten diadakan pada bulan Maulud untuk merayakan kelahiran Muhammad Nabi SAW. Meskipun pasar malam tidak digelar pada perayaan sekaten tahun ini, warga Yogyakarta masih mempunyai acara yang tidak kalah menariknya dengan pasar malam, yaitu gamelan sekati.
ADVERTISEMENT
Gamelan merupakan seperangkat ansambel tradisional Jawa, yang memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem tangga nada slendro dan pelog. Masyarakat Jawa menyebut gamelan sebagai gangsa yang merupakan jarwa dhosok (akronim) dari tiga sedasa (tiga dan sepuluh). Tiga sedasa merujuk pada elemen pembuat gamelan berupa perpaduan tiga bagian tembaga dan sepuluh bagian timah. Perpaduan tersebut menghasilkan perunggu, yang dianggap sebagai bahan baku terbaik untuk membuat gamelan.
Instrumen yang dimainkan dalam seperangkat gamelan antara lain kendang, bonang, panerus, gender, dan gambang. Selain itu ada suling, siter, clempung, slenthem, demung, dan saron. Juga tidak ketinggalan gong, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, dan peking. Keraton Yogyakarta memiliki sekitar 21 perangkat gamelan. Salah satu perangkat gamelan yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta adalah gamelan Kanjeng Kiai Sekati.
ADVERTISEMENT
Gamelan Kanjeng Kiai Sekati atau disebut Gamelan Sekati merupakan gamelan yang hanya dimainkan pada saat perayaan sekaten. Gamelan Sekati terdiri dari dua perangkat gamelan, yaitu Gamelan Kiai Gunturmadu dan Gamelan Kiai Nagawilaga. Kiai Nagawilaga berasal dari kata nogo, kata wi, dan kata logo. Secara harfiah, Nagawilaga berasal dari kata nogo dalam bahasa Jawa berarti naga, seekor ular. dalam mitologi. Namun secara kiasan bermakna lestari atau terus-menerus. Sementara Kiai Gunturmadu berasal dari kata guntur dan madu. Dalam bahasa Jawa, guntur berarti runtuh, sedangkan kata madu secara harfiah berarti madu. Namun sebagai kiasan, bermakna anugerah. Karena itu, Gunturmadu mengandung arti 'anugerah yang turun'.
Gamelan sekaten tersebut dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan disebut-sebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Alat pemukulnya dibuat dari tanduk lembu atau tanduk kerbau dan untuk dapat menghasilkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipuk pada masing-masing gamelan. Untuk persiapan spiritual, dilakukan beberapa waktu menjelang sekaten. Para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan sekaten, mereka mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas.
ADVERTISEMENT
Sudirman dalam skripsinya yang berjudul Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta dalam Perspektif Komunikasi Antarbudaya meneliti bahwa kedua gamelan tersebut digunakan untuk mengiringi gending-gending yang dilantunkan selama tujuh hari berturut-turut secara bergantian. Selama tujuh hari tersebut, gamelan itu dibunyikan secara terus menerus. Para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan melaksanakan tugasnya secara bergantian. Apabila waktu sholat tiba, maka pemukulan gamelan diberhentikan sejenak.
A.M.Susilo Pradoko dalam jurnalnya yang berjudul Gamelan Sekaten Merupakan Fenomena Penuh Makna dan Multi Perspektif Suatu Kajian Kebudayaan Materi meneliti bahwa gamelan Sekati ternyata membawa berkah bagi masyarakat. Pertama, masyarakat pengunjung yang mendapatkan udhik-udhik percaya bahwa uang logam atau rempah-rempah yang didapat bakan mendatangkan banyak rezeki dengan menyimpannya ditempat yang diinginkan. Kedua, masyarakat pengunjung percaya bahwadengan melihat dan mendengarkan gamelan sekaten menjadikan mereka awet muda.
ADVERTISEMENT
Ketiga, masyarakat pengunjung yang mendapatkan puing-puing batu bata yang disepak oleh Raja pada saat ke luar dekat Masjid Agung, percaya bahwa puing tersebut mendatangkan rejeki dan kesuburan lahan dan tanah pertaniannya atupun rumahnya.
Keempat, pembelian alat-alat pertanian seperti pecut, topi petani, alat pertanian lain juga mendatangkan kesuburan, pecut untuk peternakan. Kelima, kain gombal yang dipakai untuk membersihkan gamelan diminta para pengunjung untuk dioleskan di badan yang bermanfaat untuk kesehatan badan demikian minyak lampu jlupakbeserta kapas yang dipakai saat penampilan gamelan sekaten bila dioleskan di badan membuat sehat dan awet muda. Terakhir, pemberian sesaji berupa bunga, kemeyan dan uang kepada gamelan Sekati (Kanjeng Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu) akan membuat pemberi sesaji dikabulkan apa yang menjadi keinginannya. (Ayu)
ADVERTISEMENT