Mengenal Uyon-uyon Hadiluhung, Peringatan Hari Kelahiran Sultan HB X

Keraton Yogyakarta akan segera menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon 19 Oktober 2020. Uyon-Uyon Hadiluhung digelar untuk memperingati hari kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Keraton Yogyakarta dikenal masih melestarikan tradisi dan budaya turun-temurun. Salah satunya adalah Uyon-Uyon Hadiluhung yang bertujuan sebagai peringatan hari lahir dari Sri Sultan HB X.
Uyon-Uyon Hadiluhung sendiri diadakan sebagai upacara adat untuk memperingati kelahiran Sri Sultan HB X yang jatuh pada Selasa Wage.
Dalam Uyon-uyon Hadiluhung tahun ini, Keraton Yogyakarta akan menyajikan komposisi gendhing dan tari Bedhaya Sapta. Gendhing adalah sebuah instrumen yang nantinya akan digunakan untuk memeriahkan Uyon-Uyon Hadilihung.
Adapun Gendhing yang akan diputar dalam Uyon-Uyon Hadiluhung terdiri dari Gendhing Pembuka, Gendhing Soran, Bedhaya Sapta, Gendhing Lirihan I hingga III dan Gendhing Penutup.
Bedhaya Sapta sendiri merupakan salah satu tarian klasik Yasan dalem Sri Sultan HB IX. Sapta sendiri berarti tujuh yang merujuk pada jumlah penari.
Bedhaya Sapta diambil dari kisah Babad Pasundhan yang menceritakan Sultan Agung, yaitu Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya. Keduanya bertugas memperluas wilayah kerajaan dan membuat batas antara Mataram dan Pasundan.
Dalam menjalankan tugas mereka, mereka ditemani oleh dua abdi, yaitu Nayarkata dan Nayakerti. Mereka berhasil membangun tapal batas dan membuat Sultan Agung merasa senang sehingga menghadiahkan uang dan pakaian.
Bedhaya Sapta pada mulanya dikehendaki oleh Sri Sultan HB IX pada 1947. Bedhaya Sapta dikenal sebagai tarian perwujudan dari kemurahan hati Sri Sultan HB IX.
Dilaksanakan di tengah pandemi corona, hal ini membuat ritual Uyon-uyon Hadiluhung dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. (Okty Setianingrum)
