Konten Media Partner

Menilik Cerita 'Kue Keranjang dan Imlek' yang Sarat Makna Mendalam

29 Januari 2025 17:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Kue Keranjang yang selalu ada di setiap perayan Imlek. (Foto: M Wulan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kue Keranjang yang selalu ada di setiap perayan Imlek. (Foto: M Wulan)
ADVERTISEMENT
Warga Tionghoa di seluruh dunia tengah merayakan Tahun Baru China 2576 Kongzili atau Imlek yang jatuh pada hari ini, 29 Januari 2025.
ADVERTISEMENT
Di momen perayaan ini, kue keranjang selalu menjadi salah satu menu wajib yang disajikan. Bahkan bagi sebagian orang, perayaan Imlek itu terasa tidak lengkap jika tidak ada kue keranjang.
Hal ini diungkapkan oleh salah satu warga yang memiliki keturunan Tionghoa, Markus Tao (33). Dia berbagi makna terkait kue keranjang tersebut kepada tim Tugu Jogja.
Dirinya menyampaikan banyak makanan khas Imlek yang memiliki filosofis dan simbolisme tersendiri, termasuk Kue Keranjang.
Penyajian kue keranjang pada perayaan Tahun Baru China itu, kata dia, sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.
Kue keranjang tidak disajikan begitu saja, namun kehadirannya memiliki makna mendalam dimana warga Tionghoa percaya bahwa kue satu ini bisa membawa keberuntungan.
ADVERTISEMENT
"Itu kue kaya maknanya, membawa keberuntungan dan nasib baik sih bagi warga Tionghoa yang percaya. Jadi kalau sudah Chinese New Year ini, semua wajib ada kue keranjang itu," ujar Markus kepada Tugu Jogja, Rabu (29/1/2025).
"Kayak lengkap aja (perayaan Imleknya)," sambung dia.
Selain itu, Markus juga menuturkan kue keranjang itu juga bukan sekadar hidangan khas Imlek, melainkan simbol harapan, keberuntungan, dan keterikatan dengan leluhur yang terus terjaga dalam budaya Tionghoa.
Oleh karenanya, ia mengaku tak heran apabila kue yang menjadi simbol dari perayaan Imlek itupun, dikatakannya cepat habis karena banyak warga Tionghoa yang berlomba memburunya.
Terkait jumlah penyajiannya, Markus menyebut akan lebih baik berjumlah ganjil.
"Jumlah ganjil itu dalam tradisi imlek melambangkan keberuntungan dan kesempurnaan, di Tionghoa emang gitu, ganjil itu lebih baik dari pada genap," ceritanya.
ADVERTISEMENT
Kendati punya makna mendalam, bagi dia, apabila pada akhirnya tak ada sajian kue keranjang pun tak menjadi masalah. Hal ini dikarenakan masih banyak simbol lain yang bisa disajikan dalam perayaan Imlek tersebut.
Beberapa di antaranya seperti jeruk Mandarin, lapis legit, manisan dan masih banyak lagi.
"Buat saya pribadi nggak ada masalah kalau memang tidak ada kue keranjang pas Imlek. Kue keranjang kan hanya salah satu simbol tradisi imlek , bukan yang mesti wajib. Yang terpenting memahami makna di balik tradisi imlek dan menghargai waktu misalnya bisa berkumpul bareng keluarga," ucapnya.

Cara Memaknai Imlek

Markus pun kemudian menyampaikan bagaimana caranya memaknai perayaan hari besar keagamaan itu.
Selain refleksi diri, bagi dia, berkumpul lengkap dengan seluruh keluarga besar juga menjadi hal penting yang ia lakukan. Dia ingin momen kebersamaan Imlek itu tidak sampai terlewatkan untuk saling mengucapkan selamat tahun baru.
ADVERTISEMENT
Apalagi umumnya keluarga yang berkumpul itu akan membuat suasana hangat saat bertemu keluarga, memunculkan rasa hangat karena energi positif akibat kegembiraan dengan hadirnya seluruh keluarga.
Selain itu, membuat hubungan keluarga menjadi lebih akrab dan dekat. Nah momen berkumpul inilah yang menjadi caranya memaknai Imlek. Bisa diisi dengan makan bersama, saling ngobrol, berbagi pengalaman hidup, memberi hadiah, membagikan angpao, saling berkunjung antar satu keluarga dengan keluarga lain, dan sebagainya.
"Kita siapin kaya makanan-makanan, angpao, terus mengunjungi keluarga," kata dia.
"Aku lebih memaknainya ke kebersamaan sama keluarga yang nggak tau bakal (terulang lagi) tahun depan, apakah bisa kumpul atau nggak. Jadi aku menghargai waktu bersama keluargaku," tandasnya.
(M Wulan)