Merti Bumi Tunggularum: Ungkapan Syukur akan Keberhasilan Panen

Merti bumi tunggul arum adalah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tunggul Arum, Sleman, Yogyakarta. Upacara ini dilakukan setiap bulan Sapar (dalam bahasa Jawa) sebelum musim panen. Upacara merti bumi tunggularum diadakan sebagai rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa syukur itu berupa keberhasilan panen, sehingga masyarakat dapat hidup tenteram, aman, dan damai. Upacara Merti Bumi Tunggularum ini telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda di Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.

Ana Muslimati Amalia, dalam skripsinya yang berjudul "Upacara Tradhisi Merti Bumi Tunggul Arum Ing Dhusun Tunggul Arum Desa Wonokerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman (Kajian Folklor, Tatacara, Makna Simbolik, Saha Paedah)" mengatakan bahwa tradisi ini diadakan usai musim panen yang melimpah di mana tidak ada bencana di desa tersebut. Upacara ini juga menjadi ungkapan syukur atas keamanan dan kerukunan serta permohonan pada Tuhan Yang Maha Esa agar desa dijauhkan dari bencana dan bahaya.
Asal-usul upacara ini dimulai pada tahun 1961. Sebelum 1961 masih dikenal sebagai Tunggul yang terletak di sisi barat Sungai Bedhog, tetapi sejak 1961 terletak di sebelah timur Sungai Bedhog karena erupsi Gunung Merapi, tidak ada evakuasi bagi warga sejak saat itu. Karena itulah tempat itu dinamakan desa Tunggul Arum. Upacara Merti Bumi tidak hanya sekadar kirab, tetapi juga mengenang Kyai Wulung Arum.
"(Upacara Adat Merti Bumi) Ini kan sudah turun temurun. Kalau pas upacara rame banget mbak. Karena nggak hanya warga sini yang ikut. Beberapa ada yang dari luar, penasaran sama upacaranya," ujar Bagus (42), warga Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, Minggu (26/1/2020).
Upacara merti bumi tunggul arum juga memiliki tujuan pelestarian kebudayaan dan kesenian masyarakat pedesaan. Merti bumi tunggul arum merupakan serangkaian kegiatan budaya, yakni prosesi pengambilan air suci dari empat penjuru. Empat penjuru itu antara lain desa Dhadhapam, Desa Garongan, Desa Ledhok Lempeng, dan Desa Tunggul Arum.
Selain itu ada parade seni dan budaya, pengajian dan mujahadah, pameran potensi masyarakat dan bazar, serta puncaknya berupa kirab pusaka Kyai Tunggulwulung, Kirab Tumpeng Wulu Wetu, Kirab Tumpeng Lanang Wadon, Tari Persembahan, Gunungan Salak, pelepasan burung, gejog lesung, dan Bregada Prajurit “Pager Bumi". Saat merti bumi tunggul arum dilaksanakan, para penonton disuguhi aneka makanan tradisional, termasuk dawet dan buah salak pondoh.
Upacara merti bumi tunggul arum mengandung nilai kesatuan dan persatuan, nilai kebersamaan dan gotong-royong, nilai luhur etika, nilai luhur kepribadian dan kepercayaan diri. Sesaji yang disiapkan dalam upacara ini meliputi Kenduri lengkap (tumpeng, golong, nasi gurih, ayam lembatan, peyek, thontho, dan buah-buahan hasil dusun setempat.
Selain itu, upacara ini merupakan perayaan kebudayaan yang diwariskan para leluhur kepada generasi sekarang. Dari sisi budaya, upacara ini memiliki manfaat penting. Manfaatnya adalah bahwa upacara merti bumi berpotensi menjadi acara tahunan di desa Tunggul Arum.
"Harapannya besok-besok yang gerak yang muda. Jangan yang tua terus, biar diturunkan terus menerus. Yang muda biar ada rasa nduweni (memiliki)," harap Bagus. (Ayu)
