Konten Media Partner

Meysa dan Meyka, Bayi Asal Gunungkidul ini Lahir dengan Dada dan Perut yang Berdempetan

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Meysa dan Meyka, Bayi Asal Gunungkidul ini Lahir dengan Dada dan Perut yang Berdempetan
zoom-in-whitePerbesar

Eka Handayani (26) dan Ari Sahyana (27), pasangan muda asal Padukuhan Pabregan, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul merasa pasrah dengan anugerah yang mereka dapatkan dari Yang Maha Kuasa. Anak kedua yang lahir dari rahim Eka Handayani memiliki 'Keistimewaan'.

Anak kedua pasangan muda ini sebenarnya sangat menggemaskan. Bayi berkulit putih bersih dengan bulu mata yang lebat itu diberinama Meysa Sahyana dan Meyka Sahyana oleh kedua orang tuannya. hanya saja, kedua bayi yang lahir tanggal 14 Mei 2018 ini dianugerahi dada dan perut yang berdempetan.

Bayi ini juga memiliki 4 tangan dengan jari yang lentik. Tak hanya itu, dua kaki dari bayi ini sebenarnya normal, 2 kaki lainya berdempetan namun tetap 2 tulang. Sehingga jika dilakukan pembedahan bagian dada dan perut, satu kakinya juga harus dilakukan operasi.

Selain itu, usus besar bayi mungil ini hanya ada satu. Sehingga proses pembuangan pun hanya bisa dilakukan oleh 1 bayi.

"Anak saya ini lahir dengan berat 3,5 kg. Sejak usia 2 bulan keduanya telah berbobot 6,5 kg lebih,"cerita Eka, Selasa (25/9).

Tak ada yang janggal dengan kehamilan keduanya itu. Hanya saja, hingga usia kandungan 4 atau 5 bulan, bayi dalam kandungannya kurang begitu aktif. Ia juga sempat menanyakan kepada dokter mengenai keaktifan janin dalam kandungannya yang dianggapnya kurang. Dan sejak saat itu, setiap bulannya rutin periksa di Puskesmas.

Terakhir, ia mendapat arahan dari bidan untul melakukan USG saat periksa di Puskesmas. Bidan menilai ada yang janggal karena ukuran bayi yang dianggap besar. Barulah ia kemudian mengikuti USG di rumah sakit yang berada di kawasan Cawas.

Meysa dan Meyka, Bayi Asal Gunungkidul ini Lahir dengan Dada dan Perut yang Berdempetan (1)
zoom-in-whitePerbesar

Setelah melihat hasil USG, Eka dan Keluarga mengaku kaget keluarga dibuat kaget sebab dokter yang mengecek kadungan mengatakan jika janin yang dikandung Eka adalah kembar siam. Bayinya kemungkinan besar akan lahir dengan tubuh yang dempet dan 2 kepala dan harus lahir dengan proses caesar.

"Saya terus menjaga pola makan, tidak ada yang aneh dengan anak saya. Saya juga tidak ada firasat kalau anak saya akan seperti ini, bahkan mimpi sekalipun. Ini merupakan rezeki yang tiada saya kira dari Allah, bagaimanapun saya tetap bersyukur," ucap dia sembari terbata-bata.

Sama seperti proses kehamilan anak pertamanya, hingga proses persalinan tiba tidak ada hal aneh yang ia rasakan. Persalinan pun harus dilakukan dengan operasi, karena untuk lahir normal pun tentu sulit untuk dilakukan. Saat itu, ia memang diminta untuk memilih akan dirujuk ke rumah sakit Solo atau Jogja.

Tanggal 14 Mei 2018 lalu, putri mungil yang berparas cantik, bersih putih layaknya orang keturunan Tionghoa itu lahir dengan bantuan operasi dokter di RS Sardjito. Perasaan sedih, haru, senang dan cemas bercampur aduk menjadi satu dalam hati Eka, Ari dan keluarga. Kendati banyak perasaan berkecamuk dalam dirinya, namun Eka dan Suaminya tetap bersyukur dengan anugerah yang dberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Saat ini ia pasrah dengan kondisi puteri keduanya tersebut. Meski sebenarnya sebagai seorang ibu, Eka memiliki keinginan untuk melakukan operasi pemisahan dua tubuh putri kecilnya itu. Namun ia ragu, upaya tersebut apakah bisa dilakukan atau tidak. Sebab, ketiadaan biaya masih mendera keluarga ini.

"Untuk kelahiran beberapa bulan lalu, biayanya mencapai Rp 120 juta. Tetapi kami bersyukur karena ada BPJS. Saat ini saya sendiri belum tahu apakah anaknya akan dipisahkan atau tidak. Sebab, sampai saya juga belum berkonsultasi kembali dengan dokter di Sardjito," ungkapnya pasrah.

Keluarga ini memang belum sempat berpikir apakah akan dipisah atau tidak. Sebab, untuk merawat dua anak tersebut memang cukup sulit.

Sekedar untuk tidur saja, dua bayi ini terkadang tak bisa nyenyak. Kondisi bayi yang berbeda terkadang membuat kedua bayi ini harus terjaga. Bagaimana tidak, jika Meysa terlelap dan tiba-tiba Meyka terbangun terus menangis, maka keduanya akan terjaga.

Harapan untuk memisahkan anaknya memang tetap ada. Eka mengaku baru akan berkonsultasi dengan dokter ketika anaknya berusia 6 bulan lebih.

Sebab, dokter pernah memberitahu jika anaknya baru bisa dipisah ketika berusia di atas 6 bulan. Sebab, jika dilakukan sebelum usia tersebut resikonya adalah pendarahan.

"Untuk menyambung hidup, suami saya sekarang menjadi buruh lajon Semin Sukoharjo di sebuah pabrik tenun," ucap Eka.(erl/fra)