Nasi Kucing Jumbo Hingga Kulit Tela, Makanan di Masa Penjajahan

Hidup di era penjajahan penuh tekanan saja sudah membuat takut. Segala aspek dirampas terutama sumber makanan. Karena dirampas, masyarakat makan pun seadanya. Bersyukur masih bisa makan walaupun itu adalah ala kadarnya.
Rupanya nasi kucing sudah ada sejak zaman penjajahan. Berbeda dengan zaman dulu, nasi kucing saat itu ukurannya besar-besar. Namanya saat itu adalah nuk. Isinya kurang lebih mirip dengan nasi kucing yang dijual saat ini. Nasi dengan porsi besar dan juga lauk tempe atau sambel teri. Kadang lauknya pun ditambah dengan masakan yang enak-enak.
"Kalau jaman dulu jaman perang nasinya itu namanya nuk. Nuk itu lebih besar lagi. Lebih gede dari pada nasi kucing tur lauk ya malah enak-enak" cerita Djoewariyah Seohardi, salah satu pelaku sejarah perjuangan saat ditemui di rumahnya Pakelrejo, Umbulharjo, Jumat (9/8/2019)
Di zaman itu warga memberikan makanan pada tentara Indonesia dengan bergotong royong. Mulai dari ternak, sayur, hingga lauk pauk lainnya diberikan cuma-cuma bagi para tentara. Mereka secara sukarela memberikan makan supaya tentara yang berjuang di medan perang tidak kelaparan dan terjamin kesehatannya. Doa mereka tentunya satu supaya mereka bisa sehat dan memenangkan perang atas penjajah.
"Orang-orang desa itu rela memberikan piaraannya, ternaknya, kayak sapi, bebek untuk dimasak diberikan ke tentara-tentara. Jadi mereka nggak terlantar makannya" ujarnya.
Dia bahkan sempat merasakan bergotong royong dengan warga desa untuk membungkusi nuk yang jumlahnya ribuan.
"Padahal kalau mbuat nasi nuk itu sampai 2000 bungkus. Saya kalau nggak ada kerjaan sering ikut mbungkusi. Padahal kalau mbungkusi itu sampai malem kadang sampai ngebyar. Ngebyar itu semalam suntuk" ungkap nenek kelahiran tahun 1933.
Tak hanya makanan nuk saja, di zaman itu pula ada warga memanfaatkan kulit ketela untuk dijadikan bahan makanan. Makanan ini ada saat di zaman pendudukan Jepang. Warga desa tak tahu kemana sumber makanan ketela dan umbi mereka dibawa. Yang tersisa hanyalah kulit ketela dan kemudian dijual dengan harga murah. Karena kebanyakan warga tak mampu membeli beras, mereka memilih untuk membeli kulit ketela untuk dijadikan makanan.
Kulit ketela di masa itu bisa dimasak hanya digoreng saja atau bahkan diiris lurus tipis-tipis dan bentuknya menyerupai mie. Djoewariyah sempat merasakan olahan makanan itu ketika dia masih kecil. Kala itu keluarganya tak mampu membeli makanan hingga akhirnya membeli kulit ketela untuk dimasak.
"Kulit ketela itu diiris tipis. Dimasak mie oleh ibu saya. Saya pernah makan itu" dia mengenang pengalaman pahit itu.
Djoewariyah maupun warga tak bisa protes soal urusan makanan. Mereka memilih menerima keadaan mereka. Bersyukur masih bisa diberikan kesempatan untuk makan.
"Mau gimana lagi. Hasil panen dibawa entah kemana. Syukur-syukur bisa makan" kata dia. (Birgita/adn)
