Konten Media Partner

Nyadran Gadean Gunung Gentong, Ritual Warga Gunungkidul Usir Virus Corona

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Upacara Adat Nyadran Gunung Genthong yang dilakukan warga Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Selasa (8/6/2021). Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Upacara Adat Nyadran Gunung Genthong yang dilakukan warga Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Selasa (8/6/2021). Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Hari Selasa Kliwon (8/6/2021) ini, warga Kalurahan Ngalang Kapanewonan Gedangsari Gunungkidul menggelar Nyadran Gadean Gunung Gentong, di Gadean. Ratusan warga mengenakan pakaian tradisional terlihat tengah hikmat memanjatkan doa di petilasan Prabu Brawijaya 5

Nyadran Gadean Gunung Gentong menjadi Puncak ritual warga Kelurahan ngalang untuk menghindari segala marabahaya saat ini termasuk pandemi COVID-19 yang masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Nyadran Gadean Gunung Gentong menjadi menu wajib yang harus diselenggarakan oleh warga Kelurahan Ngalang

Hari Selasa ini dalam kalender jawa bertepatan dengan hari Selasa Kliwon bulan Syawal. Hari Selasa Kliwon memang menjadi hari wajib bagi masyarakat Kalurahan Ngalang ketika akan menggelar Nyadran Gadean Gunung Gentong. Karena hari Selasa Kliwon merupakan hari baik dalam kalender Jawa.

"Gadean adalah petilasan Prabu Brawijaya V yang ada di Gunung Gentong. Tempat ini wajib kita uri-uri atau kita jaga agar tidak punah," terang Ketua Desa Budaya Ngalang, Kunto Wibowo, Selasa.

Prosesi ritual sudah dimulai sejak Senin wage kemarin. Di mana warga mulai mengumpulkan bahan (uba rampe) yang akan digunakan untuk upacara nyadran tersebut. Senin malam mereka mulai memasak ubo rampe tersebut sebelum akhirnya Selasa pagi sekitar pukul 05.00 WIB masakan tersebut mereka kumpulkan di rumah Dukuh.

Upacara Adat Nyadran Gunung Genthong yang dilakukan warga Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Selasa (8/6/2021). Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Mulai pukul 06.00 WIB, warga secara bersama-sama membawa ubo rampe tersebut ke Gadean. Jika tidak masa pandemi, biasanya mereka membawa ubo rampe tersebut dengan Jodang (tandu) menuju ke lokasi hajatan.

Namun karena pandemi COVID-19 maka rangkaian acara menggunakan jodang ditiadakan dengan alasan menghindari kerumunan warga yang lebih besar.

Di petilasan Prabu Brawijaya tersebut, ubo rampe yang mereka bawa lantas didoakan oleh tokoh adat setempat.

Nyadran Gadean Gunung Gentong merupakan warisan tradisi yang harus dilaksanakan. Nyadran Gadean Gunung Gentong adalah menu wajib yang harus dilaksanakan setiap tahun oleh warga setempat, termasuk di masa pandemi seperti sekarang ini.

"Tahun 2020 kemarin, hajatan ini digelar lebih sederhana dengan membatasi jumlah peserta. Namun untuk kali ini, digelar seperti biasa ketika tidak ada pandemi. Yang membedakan hanya tidak ada jodang," terangnya.

Dalam acara tersebut, ubo rampe di antaranya Nasi Putih sambel Gepeng (kedelai), Panggang Ayam, Ketupat dan hasil bumi turut serta dibawa untuk didoakan. Selain itu hal yang wajib dipenuhi adalah sirih yang diikat dengan benang serta sisir suri (sisir untuk mencari kutu rambut).

Ubo rampe tersebut bukan tanpa sebab karena nasi sambel gepeng adalah nasi kesukaan Prabu Brawijaya ketika menjalani prosesi bertapa di Gadean tersebut. Sesekali Prabu Brawijaya menangkap ayam kemudian dipanggang di atas bara api yang sengaja ia buat.

"Kemudian sirih tersebut sebagai simbol jika lelaki jaman dahulu makan sirih," tambahnya.

Di mana saat bertapa di tempat yang sangat tersembunyi penuh dengan pohon-pohon besar serta sejuk inilah Prabu Brawijaya menikmati kesunyian sembari mengunyah daun sirih. Selain itu juga ada sisir suri disimbolkan sebagai upaya menyisir berbagai keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelum akhirnya dibuang.

Ubo rampe lain asalah Kupat (Ketupat) simbolisasi aku lepat (aku lepat) juga dibuat sebagai pengakuan bahwa manusia memang sering melakukan kalepatan (kesalahan). Harapannya memang segala dosa bisa diampuni oleh Sang Maha Kuasa nantinya.

Acara diakhiri dengan makan bersama ubo rampe yang sebelumnya telah mereka persiapkan. Nyadran Gadean Gunung Gentong wajib dilaksanakan setiap tahun. Karena jika tidak maka warga khawatir akan ada bencana yang melanda wilayah mereka. Sehingga dalam kondisi apapun, maka harus dilaksanakan.

"Tahun ini, harapan terbesar warga adalah Pandemi segera berakhir. Kami berharap dengan nyadran ini, pandemi segera pergi dari Bumi Indonesia," ungkapnya.

instagram embed