Nyadran: Tradisi Membersihkan Makam Sebelum Ramadan dari Jawa

Nyadran merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun menjelang bulan Ramadan. Kata "Nyadran" berasal dari kata "Sraddha" yang berarti keyakinan. Dalam kalender Jawa bulan Ramadan disebut juga sebagai bulan Ruwah, sehingga acara Nyadran disebut juga sebagai acara Ruwah. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi dari budaya Jawa dan Islam.
Nyadran biasanya diadakan sebulan sebelum bulan puasa atau pada tanggal 10 Rajab, atau 15, 20, dan 23 Ruwah. Tujuan dari Nyadran adalah menghormati para leluhur dan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Nyadran sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Jawa. AcarabNyadran terdiri dari serangkaian kegiatan, yaitu upacara pembersihan makam, tabur bunga, dan acara selamatan atau bancakan.
Tradisi nyadran sudah ada pada masa Hindu-Budha sebelum agama Islam masuk di Indonesia. Zaman kerajaan Majapahit tahun 1284 ada pelaksanaan seperti tradisi nyadran yaitu tradisi craddha. Kesamaan dari tradisi tersebut pada kegiatan manusia dengan leluhur yang sudah meninggal, seperti sesaji dan ritual persembahan untuk penghormatan terhadap leluhur. Tradisi nyadran merupakan sebuah ritual yang berupa penghormatan kepada arwah nenek moyang dan memanjatkan doanselamatan.
Purwadi dalam buku Sejarah Walisongo halaman 2 menulis bahwa masuknya agama Islam di Jawa pada abad ke-13 membuat tradisi nyadran mengalami akulturasi dalam pelaksanaannya dengan nilai-nilai Islam. Akulturasi semakin kuat ketika Walisongo menyebarkan agama Islam dengan mengakultutasikan budaya masyarakat Jawa dengan nilai-nilai Islam supaya mudah diterima oleh masyarakat dan masuk Islam.
Muhammad Solikin dalam buku Ritual Kematian Islam Jawa halaman 140, menulis pelaksanaan tradisi nyadran pada masa Hindu-Budha menggunakan puji-pujian dan sesaji sebagai perlengkapan ritualnya, sedangkan Walisongo mengakulturasikan nyadran dengan doa-doa dari Al-Quran.
Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal sejatinya masih ada dan mempengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunannya. Karena pengaruh agama Islam pula makna nyadran mengalami pergeseran dari sekedar berdoa kepada Tuhan menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan kepada bulan Sya’ban atau nifsu Sya’ban.
Ajaran agama Islam meyakini bahwa bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia. Oleh karena itu pelaksanaan ziarah kubur juga dimaksud sebagai sarana intropeksi atau perenungan terhadap segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama satu tahun.
Tradisi nyadran diawali dengan membaca doa dan ayat-ayat di Al-Quran. Tahap pertama pelaksanaan tradisi nyadran dimulai dengan membaca ayat suci Al-Quran dilanjutkan dengan sambutan dari sesepuh desa dan kepala desa. Acara tahlillan yang di tengah lingkaran terdapat kenduri dan sesajinya. Tahap terakhir tabur bunga dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama.
Pada acara makan bersama masyarakat ada yang tukar makanan, bersenda gurau dan ada anak kecil yang bermain. Setelah acara selesai, panitia pelaksana membawakan kenduri yang masih ada untuk warga yang tidak hadir dan warga miskin. Tata cara pelaksanaan tradisi nyadran tidak hanya sekadar ziarah ke makam leluhur tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silahturahmi dan ada warga mengajak saudara untuk merantau dan mengadu nasib ke kota pada saat pelaksanaan tradisi nyadran. (Ayu)
