Pantai Parangtritis, Fenomena Alam Dibalut Aroma Mistis

Lelah, penat akan kesibukan sehari-hari, muak dengan suasan hiruk pikuk kota yang selalu bising seolah memekakkan telinga tanpa ampun, membuat suasana pikiran kita menjadi semakin terpuruk. Apalagi beban pekerjaan yang semakin menumpuk tanpa memerdulikan posisi kita yang seolah sudah tiap hari bercengkerama dengan indahnya persoalan hidup.
Tidak salah jika sesekali kita berusaha melepas beban kerja dan penatnya hidup dengan menikmati suasana segar pantai yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Tidak salah jika anda datang ke Pantai Parangtritis yang letaknya sekitar 30 km ke selatan dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul. Diyakini semua lelah anda segera hilang begitu anda memasuki kawasan pantai yang menghampar sekitar 3 km.
Ya, karena di pantai ini anda bisa sepuasnya berjalan menyusuri pantai sembari menikmati deburan ombak. Namun awas, jangan sesekali anda mencoba untuk mandi di kawasan pantai ini, karena pantai ini terkenal dengan ombaknya yang sangat ganas, dan banyak terdapat palung-palung raksasa yang letaknya selalu berubah-ubah sehingga sulit terdeteksi. Jika anda mandi dan tanpa sengaja masuk ke dalam palung tersebut, hal tersebut sebagai pertanda anda tidak akan bisa terselamatkan lagi.
Jika pengunjung tidak puas berjalan-jalan di tepi pantai, pengunjung bisa menikmati tawaran bendi yang ditarik seekor kuda. Dengan tariff yang bisa anda tawar, bendi-bendi dengan kusir yang ramah ini siap mengantar anda menyusur pantai. “tarifnya bisa ditawar mas, kalau anda suka juga bisa sewa seharian,” kata Daruno, pemilik bendi.
Jika sudah puas berjalan-jalan di tepi pantai, anda bisa menikmati makanan laut berbagai menu. Jangan khawatir, karena di pantai ini semua tariff diusahakan untuk transparan. Berbagai menu ikan memang tersedia di sini, mulai dari ikan bawal hingga hiu bisa anda pesan di rumah makan yang ada di sepanjang jalan masuk pantai tersebut. Dan jika anda berminat untuk menginap, di sini cukup banyak tersedia berbagai penginapan dari yang bertarif ekonomi hingga bertarif ekslusif.
Jika anda bosan dengan suasana pantai seperti biasanya, tidak salah jika anda mencoba naik ke atas bukit di sisi timur pantai ini. Anda akan menikmati pesona alam yang mencengangkan, karena hamparan laut terlihat tampak liukan bibir pantai yang sedap dipandang mata. Ribuan manusia yang tengah beraktifitas di pantai terlihat seperti semut yang sedang berlalu lalang. Sembari menikmati kelapa muda yang dijajakan oleh penjual, anda juga bisa menikmati parangtritis dari sisi yang berbeda.
Kalau anda ingin mandi air panas yang alami, tidak salah jika masuk ke pemandian air panas parangwedang. Dengan biaya Rp 5.000 plus parkir, anda bisa sepuasnya mandi di pemandian air panas. Bagi anda yang punya penyakit terutama penyakit kulit, dijamin penyakit akan sembuh. Sebab dari dulu parangwedang dikenal sebagai tempat penyembuhan penyakit kulit.
Sejumlah pengalaman wisata bisa dirasakan di pantai ini. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama. Pesona alam itu bisa diintip dari berbagai lokasi, sehingga pemandangan yang dilihat lebih bervariasi. Bila anda berdiri di tepian pantainya, pesona alam yang tampak adalah pemandangan laut lepas yang maha luas dengan deburan ombak yang keras serta tebing-tebing tinggi di sebelah timurnya.
Usai menikmati pemandangan Parangtritis dari tepian pantai, anda bisa menuju arah Gua Langse. Di jalan tanah menuju Gua Langse, anda bisa melihat ke arah barat dan menyaksikan sudut lain dari Parangtritis. Gulungan ombak besar yang menuju tepian pantai akan terlihat berwarna perak karena sinar matahari, dan akan berwarna menyerupai emas bila sinar matahari mulai memerah atau menjelang senja.
Selain itu, bagi anda yang ingin berziarah ke makam-makam, bisa berziarah ke makam Syeh Maulana Maghribi yang letaknya di atas bukit. Anda juga bisa bersemedi di kawasan cepuri, cepuri diyakini sebagai tempat pertemuan Ratu Selatan dengan Sri Sultan.
Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian
Penamaan Parangtritis memiliki sejarah tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beberapa ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis (=tetesan air). Pantai yang terletak di daerah itu pun akhirnya dinamai serupa.
Untuk mencapai Parangtritis, anda bisa memilih dua rute. Pertama, rute Yogyakarta – Imogiri – Siluk – Parangtritis yang menawarkan pemandangan sungai dan bukit karang. Kedua, melewati rute Yogyakarta – Parangtritis yang bisa ditempuh dengan mudah karena jalan yang relatif baik.
Tenggelamnya dua orang wisatawan di kawasan sekitar pantai Parangtritis termasuk Parangendog memang bukan yang pertama kali. Bahkan, hampir setiap momen liburan selalu saja terjadi fenomena tenggelamnya wisatawan di pantai ini.
Ganasnya pantai Parangtritis memang membuat Tim SAR selalu bekerja ekstra keras. Anggota Tim SAR Parangtritis selalu berusaha menambah papan larangan mandi di laut. Larangan mandi tersebut disampaikan dengan pertimbangan faktor keselamatan. Selain itu, wisatawan diminta mematuhi rambu larangan mandi dan bermain air di sepanjang pantai selatan Bantul.
Komandan SAR Parangtriris Kretek Bantul, Ali Sutanta Jaka Saputra, mengingatkan agar pengunjung mewaspadai keberadaan palung di pantai. Ketika pantai terdapat palung, arusnya tenang dan tidak bergelombang. Tetapi kondisi tersebut sangat membahayakan lantaran terdapat arus bawah yang deras.
"Keberadaan Palung terus bergerak. Pengunjung harus waspada selain itu mematuhi imbauan dan larangan anggota SAR di lapangan," ujar Ali. (erl)
