Konten Media Partner

Pemerintah Didorong Tingkatkan Eksplorasi untuk Ketahanan Sumber Daya Mineral

Tugu Jogjaverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Narasumber live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ yang digelar oleh Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Senin (18/5/2020). Foto: Sandra.
zoom-in-whitePerbesar
Narasumber live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ yang digelar oleh Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Senin (18/5/2020). Foto: Sandra.

Indonesia hingga kini masih menjadi eksportir sejumlah mineral terbesar di dunia. Mulai dari nikel, batu bara, hingga timah. Namun, ada sejumlah sumber daya mineral yang tak terbarukan. Hal ini akan membuat cadangan di Indonesia pun akan habis pada waktunya. Untuk itu, perlu adanya pengelolaan dan kebijakan dari pemerintah agar cadangan tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Kita sampai saat ini masih ekspor yang namanya bahan mentah atau bijih mineral,” ujar Bambang Gatot, Dirjen Minerba ESDM, saat live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ yang digelar oleh Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Senin (18/5/2020).

Bambang Gatot, Dirjen Minerba ESDM, saat live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ yang digelar oleh Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Senin (18/5/2020). Foto: Sandra.

Ia menyayangkan anggaran untuk eksplorasi yang sangat minim. Disebutkan anggaran untuk eksplorasi di Indonesia hanya 1% saja. Apabila eksplorasi ini tidak dikembangkan, maka cadangan akan habis. Bahkan 15 sampai 20 tahun ke depan bisa saja Indonesia tidak memiliki tambang yang bisa dioperasikan.

Lebih lanjut, menurutnya perlu adanya perubahan paradigma sehingga eksplorasi di bidang energi dan sumber daya mineral ini bisa dilakukan. Masalah lain yang terjadi di bidang energi dan sumber daya mineral adalah untuk pemurnian.

“Ada masalah yang terjadi dalam nilai tambah khususnya adalah untuk pemurnian, dimana kita ga punya teknologi. Akibatnya kita selalu ambil teknologi dari luar,” kata Bambang.

“Akibatnya ekonomi tidak masuk. PR yang besar adalah kita kelamaan di research and development, di mana kita nggak bisa ciptakan mesin proses,” lanjutnya.

Padahal, mesin proses ini bisa digunakan untuk menciptakan nilai tambah. Indonesia memang dikenal menjadi negara yang kaya akan sejumlah energi dan sumber daya mineral. Dalam kehidupan manusia pun, 90% bergantung pada mineral.

“Kita harus hati-hati dalam pengelolaan. Cadangan mineral itu ada batasan habisnya, kalau tadi disampaikan kita masih punya cukup cadangan,” kata Milawarman, Komisaris Independen PT Timah.

Milawarman, Komisaris Independen PT Timah, saat live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ yang digelar oleh Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, Senin (18/5/2020). Foto: Sandra.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cadangan besi dan bauksit di Indonesia memang masih diperkirakan bertahan sampai 100 tahun lagi. Namun, berbeda dengan timah, dan sejumlah mineral lainnya.

“Ini yang jadi pertimbangan untuk menyusun kebijakan dan pengelolaan (energi dan sumber daya mineral),” katanya.

Sutarto, Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, mengatakan, bahwa perlu ada kebijakan yang memprioritaskan manfaat bagi kebutuhan dalam negeri untuk mencapai ketahanan ESDM di Indonesia.

“Pemerintah juga perlu memberikan kepercayaan pada kampus untuk lakukan penelitian ESDM masa depan,” ujarnya.

Sebelumnya, sesi live streaming ‘Membangun Ketahanan Energi dan Sumber Daya Mineral’ merupakan bagian dari program Pekan Bela Negara oleh UPNVY. Dalam sesi ini menghadirkan 6 narasumber yaitu Dekan Fakultas Teknologi Mineral, Sutarto; Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, Saleh Abdurahman; Dirjen Minerba ESDM, Bambang Gatot Ariyono; Komisaris Independen PT Timah, Milawarman; GM Pertamina EP Asset 4, Raden Agus Amerianto; dan Kepala Biro Fasilitasi Penanggulangan Krisis dan Pengawasan Energi, Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional, Ediar Usman.

Truk membawa batu bara. Foto: ANTARA FOTO.