Pengelola Tidak Persulit Pemindahan Makam di Kompleks Al Khowas

Al Khowas menjadi kontroversi sejak akhir pekan lalu. Di mana ada puluhan anggota Ormas yang mendatangi Al Khowas di Padukuhan Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman. Kedatangan mereka mendampingi seorang warga Kota Yogyakarta, Ades, yang ingin membongkar makam ayahnya, Muhammad Hadi Wiyono (56) atau Mas Yono. Rencananya, jenazah akan dipindahkan ke Pemakaman Umum Kuncen.
Ormas tersebut menuding pemilik Al Khowas mempersulit proses pemindahan makam Mas Yono tersebut. Dan mereka terpaksa datang ke Al Khowas dua kali untuk melakukan negosiasi dengan pengelola Al Khowas.
Pengelola Majelis Dzikir Al Khowas, Muhammad Hafiun, angkat bicara terkait persoalan kematian Mas Yono tersebut. Hafiun menuturkan Muhammad Hadi Wiyono datang dari Jember ke Al Khowas karena ingin silaturahmi dengan Habib Abdillah Al Hadad. Tiga orang dari Jember, masing-masing keponakannya Mas Nur dan temannya Muhammad Habibyo.
"Dia ke sini dari Jember untuk silaturahmi. Tiga orang dari sana,"ujarnya, Selasa (10/9/2019)
Sehingga ketika ada yang mengatakan bahwa Mas Yono datang ke Al Khowas bersama istrinya berobat ke pondok, maka hal tersebut adalah salah. Kemudian Mas Yono bermalam kurang lebih 3 hari, dan biasanya kalau sore, dirinya bersama selepas magrib lantas mengaji bersama.
Dan pada malam kamis, Mas Yono mengeluh dadanya sakit. Hafiun pun mendesak untuk membawanya ke rumah sakit namun ditolak oleh Mas Yono. Namun ternyata Mas Yono justru pingsan dan lantas dibawa ke Rumah Sakit Hermina. Di rumah sakit langsung mendapatkan penanganan namun nyawanya tidak tertolong lagi.
"Dokter sudah berusaha namun tidak bisa menolong beliau. Kami juga tidak tahu kapan beliau menghembuskan nafas terakhir,"tambahnya.
Hafiun melanjutkan, setelah semua proses telah selesai dan kemudian mengambil surat-menyurat untuk mengurus mayat. Setelah itu, semua orang di rumah sakit mengaku bingung dengan mayat Mas Yono. Hafiun mengaku sebagai teman bingung, mayat Mas Yono itu mau dibawa kemana. Sebab istri Mas Yono dan juga ibunya ada di Jember.
Sementara di DIY, Mas Yono memiliki anak dua tapi dari istri pertama yang sudah lama berpisah. Salah satu anaknya tersebut adalah Ades dan akhirnya pihaknya menghubungi yang paling dekat anaknya dari istri pertamanya di Yogyakarta. Meskipun menurut pamannya, Mas Nur, anak ini jarang ketemu orang tuanya.
"Kenapa alasan jarang? setiap Mas Yono sebulan sampai dua kali ke sini, anaknya tidak pernah ada. Berkali-kali sampai dia umroh di sini, anaknya gak pernah di sini,"tuturnya.
Setelah Ades bersama ibunya ada di Rumah Sakit, pihaknya masih bingung apakah dikafani dan dimandikan di rumah sakit. Namun setelah berunding termasuk bersama dengan Ades dan istri pertama Mas Yono, diputuskan jenazah di bawa pulang ke Al Khowas. Selesai diurus dan disholatkan, Hafiun kembali bingung akan dimakamkan di mana.
Atas inisiatif paman Ades, Mas Yono lantas menghubungi istri kedua dan ibunya Mas Yono untuk bertanya akan dimakamkan di mana jenazahnya. Kata ibunya sesuai dengan wasiat dari Mas Yono jika dia meninggal di Jogja maka minta diridhokan kepada habibnya untuk dikuburkan di tanah milik habib samping Masjid.
"Akhirnya ibunya bersama istrinya berangkat ke Jogja,"tambahnya.
Saat itu, sang Anak, Ades juga turut mengurusi jenazah seperti ketika memandikannya. Usai disholatkan, pihaknya menunggu keluarga dari Jember tiba, dan kubur juga belum digali. Ketika keluarga jember sudah tiba, barulah Hafiun kembali menanyakan akan dikuburkan di mana jenazah Mas Yono.
"dikubur di sini kata ibunya. Kalau itu anaknya, om, istrinya, Ades juga bilang iya,"ceritanya.
Namun ketika akan memakamkan, justru Ades menghilang bahkanketika dicari tidak ada. Hafiun sendiri mengaku dirinya yang telah memimpin acara pemakaman. Bahkan MH Ainun Najib atau cak Nun datang ke Al Khowas. Istri keduanya dan juga ibunya tetap tinggal selama 7 hari. Pada peringatan 7 hari, Al Khowas sempat menyembelih sapi untuk dibagikan kepada jamaah yang turut brdzikir mendoakan almarhum Yono.
"Saya kaget karena hari Sabtu (7/9/2019) ada polisi memberitahu jika Ades datang tiba-tiba untuk melakukan pembongkaran jenazah. Dia datang bersama ormas apa itu namanya,"katanya.
Hafiun mengatakan jika mereka datang tidak pernah memberitahu dirinya termasuk maksudnya yang ingin mengambil jenazah anaknya. Waktu itu pihaknya memang melakukan penolakan karena sudah mendapatkan amanah dari ibu almarhum untuk menguburkan almarhum di kompleks Al Khowas.
Polsek Kalasan pun akan memberikan izin jika pihak AlKhowas juga bersedia melakukan tanda tangan tentang kerelaan makam tersebut dipindah. Dirinya bersama Habib juga tidak bersedia membubuhkan tanda tangan surat kerelaan makam dipindah tersebut. Ades bersama anggota ormas bahkan menunggu hingga malam tiba.
Ades bersama anggota ormas kembali datang pada hari Minggu sembari membawa alat pembongkaran makam beserta juga dengan ambulans. Saat itu, Hafiun tidak menemui mereka, demikian juga dengan Sang Habib. Dan barulah Sang Habib yang keluar selepas dhuhur lantas mempersilahkan membongkar makam tersebut meskipun tidak pernah menandatangani surat ijin.
"Saya tidak mau keluar bukan kami tidak mengizinkan. Karena Amanah ini oleh ibu kandungnya, oleh istrinya, oleh anaknya diamanahkan kepada kami semestinya kami jaga. Karena prosedur yang benar dan yang beretika itu ibunya ada, istrinya ada, anaknya ada. kami sama sekali tidak ada mempersulit. kan itu sama saja kan urusan keluarga. Cuma kami bisa menolong untuk dimakamkan di sini. itu ceritanya. Kalau saya ijinkan maka saya adalah penghianat,"tegasnya. (erl/adn)
