News
·
29 Mei 2021 15:14
·
waktu baca 3 menit

Penjelasan LAPAN soal Dugaan Meteor Jatuh di Merapi

Konten ini diproduksi oleh Tugu Jogja
Penjelasan LAPAN soal Dugaan Meteor Jatuh di Merapi (248)
searchPerbesar
Foto dugaan meteor jatuh di Gunung Merapi. Foto: dok. Gunarto Song.
Unggahan foto diduga meteor jatuh di Gunung Merapi menghebohkan sosial media pada Jumat (28/5/2021). Foto yang diambil oleh fotografer asal Jakarta bernama Gunarto Song itu menangkap momen muncul kilatan cahaya biru kehijauan.
ADVERTISEMENT
Kepada Tim Tugu Jogja, Gunarto Song mengakui dirinya saat itu berada di lokasi Batu Alien di daerah Kaliadem, Cangkringan pada Kamis (27/5/2021) malam pukul 23.07 WIB.
"Yang saya yakin dan saya lihat tiba-tiba ada cahaya terang banget jatuh dari atas ke bawah menuju puncak dalam hitungan 1 detik an. Sangat terang dan cepat. Itu foto asli," ujarnya pada Jumat.
Peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Andi Pangerang mengatakan bahwa kilatan cahaya tersebut diduga berasal dari salah satu hujan meteor yang masih aktif.
"Diduga berasal dari salah satu hujan meteor yang masih aktif dan terjadi sekitar 27/5 (27 Mei) silam," kata Andi kepada Tim Tugu Jogja saat dikonfirmasi pada Sabtu (29/5/2021) siang.
ADVERTISEMENT
Hujan meteor yang dimaksud Andi ialah hujan Meteor Eta Aquarid dan Arietid. Mengacu dari data Internasional Meteor Organization (IMO), dalam bulan Mei ini setidaknya ada 2 hujan meteor yang sedang aktif khususnya ketika foto cahaya biru kegijuan itu diabadikan oleh fotografer Gunarto Song pada 27 Mei lalu.
Dilaporkan hujan Meteor Eta Aquarid sendiri aktif sejak tanggal 19 April hingga 28 Mei 2021 dengan puncak tanggal 6 Mei. Sedangkan hujan Meteor Arietid aktif sejak 14 Mei hingga 24 Juni 2021 dengan puncaknya pada tanggal 7 Juni.
Penjelasan LAPAN soal Dugaan Meteor Jatuh di Merapi (249)
searchPerbesar
adv
"Dari dua data ini bisa diduga bahwa kilatan cahaya kehijauan yang muncul di dekat Gunung Merapi mungkin terkait dengan aktivitas hujan meteor," kata Andi.
Perlu diketahui fenomena meteor disebabkan oleh tertariknya meteorit yang terpengaruh oleh gravitasi sehingga jatuh dan terbakar. Terkait warna pijar, hal itu dipengaruhi dengan unsur kandungannya. Jika dilihat dari foto, tampak kilat cahaya diduga meteor jatuh itu berwarna biru kehijauan.
ADVERTISEMENT
"Mengingat cahaya yang dipancarkan berwarna biru kehijauan, besar kemungkinan meteor yang jatuh di sekitar Merapi ini didominasi unsur magnesium," paparnya.
Andi juga memaparkan bahwa meteor dapat menyisakan batuan saat sampai permukaan bumi batuan inilah dinamakan meteorit. Jika memang meteor Gunung Merapi itu menyisakan meteorit, maka kemungkinan lokasi jatuhnya justru bukan ada di lereng Gunung Merapi.
"Perkiraan menggunakan metode paralaks sederhana menyimpulkan bahwa kemungkinan sekiranya terdapat meteorit, lokasi jatuhnya justru bukan berada di Lereng Merapi melainkan agak di sekitar Puncak Merbabu," ujar Andi.
Perkiraan itu ditandai dengan posisi kilatan cahaya yang nyaris vertikal menjelang ke langit. Selain itu jika melihat kilatan cahaya yang secara virtual itu tidak terlalu besar juga tanpa ledakan, diperkirakan ukuran meteor yang jatuh tidak terlalu besar atau seukuran seperti kerikil dan habis terbakar di atmosfer.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengakui bahwa kilatan cahaya terekam di salah satu CCTV pemantauan mikik mereka. Kilatan itu ditangkap oleh CCTV di wilayah Deles.
"Sehubungan dengan beredarnya berita tersebut, dapat kami sampaikan bahwa kamera CCTV yang berada di Deles (sisi timur Gunung Merapi) sempat merekam kilatan cahaya pada tanggal 27 Mei 2021 pukul 23.08.10 WIB," ungkap Kepala BPPTKG, Hanik Humaida.
Penjelasan LAPAN soal Dugaan Meteor Jatuh di Merapi (250)
searchPerbesar
adv
Berdasarkan catatan, terkait kilatan cahaya yang terekam tersebut, tidak ada sinyal atau laporan terkait aktivitas kegempaan atau suara yang ditimbulkan dari sesuatu yang diduga meteor jatuh di puncak Gunung Merapi.
"Tidak terdapat sinyal yang signifikan dari data kegempaan dan tidak dilaporkan terdengar suara atau terlihat kilatan cahaya dari pos-pos pemantauan Gunung Merapi," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020