Konten Media Partner

Peternak Sapi Perah di Jogja Diajak Tingkatkan Produktivitas dan Kualitas Susu

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peternak sapi di Yogyakarta. Foto: M Wulan
zoom-in-whitePerbesar
Peternak sapi di Yogyakarta. Foto: M Wulan

Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang menyerang hewan ternak selama tiga tahun terakhir rupanya membawa dampak pada produktivitas ternak sapi perah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Secara otomatis, hal ini turut mengakibatkan adanya penurunan terhadap pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia. Bahkan saat ini, susu dalam negeri yang diserap untuk kebutuhan konsumsi nasional baru mencapai 20 persen. Sementara 80 persen pemenuhan kebutuhan itu diketahui masih dipasok dari impor.

Melihat kondisi itu, Sarihusada Generasi Mahardhika, Danone Ecosystem, Yayasan Rumah Energi dan PRISMA berkolaborasi menghadirkan program kemitraan untuk meningkatkan produktivitas peternak sapi perah rakyat dan koperasi susu segar DIY-Jateng dengan melakukan intervensi pada kedua pihak yaitu peternak sapi perah rakyat dan koperasi susu segar itu sendiri.

“Adanya rencana program makan bergizi dan minum susu mendorong kita selaku insan peternakan dan kesehatan hewan untuk lebih kuat dalam usaha meningkatkan produksi daging, susu dan telur nasional. Produksi susu nasional saat ini hanya mampu menyuplai 20% dari total kebutuhan susu nasional," ujar Ketua Kelompok Ruminansia Perah Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Kementerian Pertanian, Argi Argiris, saat melakukan kunjungan lokakarya di Koperasi Samesta, Sleman, Jumat (26/7/2024).

Argi mengatakan kondisi ini memang sudah berjalan cukup lama dan diperparah dengan adanya Kejadian wabah PMK yang telah menurunkan populasi ternak sapi perah sebanyak kurang lebih 10% dan produksi susu segar sebanyak 30%.

Sebagai inisiatif mendukung percepatan perluasan pengembangan sapi perah nasional itu, program kemitraan ini memiliki 4 strategi yaitu meningkatkan kapasitas praktek peternakan sapi perah dan pengolahan susu segar, termasuk pengembangan bisnis terkait, lalu menguatkan infrastruktur dalam peningkatan kualitas susu, juga uji coba dan inovasi, termasuk regenerasi sapi perah dan pencatatan digital atas kuantitas/kualitas susu dan kesehatan ternak dan aksi mitigasi, resiliensi atas perubahan iklim melalui biogas dan penyediaan sarana air bersih.

"Program kemitraan yang telah diadakan Sarihusada diharapkan secara nyata dapat berdampak baik terhadap berbagai pihak yang terlibat dalam produksi susu sapi segar di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga Provinsi Jawa Tengah," ucap dia.

Ia menilai Koperasi Sapi Merapi Sejahtera 'Samesta' yang ada di Sleman ini secara konsep pengelolaan ternak hingga produksi susu sudah cukup baik dan relevan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dari susu segar itu. Sehingga, kata dia, bisa terus dikembangkan atau bahkan direplikasi ke wilayah lainnya sebagai upaya mempersiapkan pasok seiiring dengan adanya program makan siang dan susu gratis tersebut.

"Ini bisa direplikasi di tempat-tempat yang lain dan tentunya seiring dengan program pemerintah yang nanti kedepannya di mana pemerintah yang baru itu mencanangkan program minum susu gratis tentu kita butuh susu yang cukup banyak selama ini," imbuhnya.

Government and External Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Rachmat Hidayat menjelaskan program pemberdayaan peternak dan koperasi ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan juga kualitas susu yang masih terbatas. Program ini juga untuk meningkatkan penghasilan keluarga peternak, termasuk meningkatkan keuntungan di rantai bisnis koperasi.

"Program ini masih akan berjalan hingga penghujung tahun 2025, namun dampak positif dari penerapan praktek peternakan sapi perah yang baik, termasuk pengobatan dan vaksinasi pasca wabah PMK, serta arisan sapi telah terlihat diantaranya adalah peningkatan kadar protein susu sebesar 15,2% dari 2 koperasi yang didampingi. Keberhasilan program ini kedepannya tentu tidak lepas dari kerjasama berbagai pihak," terangnya.

Terkait program yang diinisiasi oleh presiden terpilih Prabowo Subianto, kata dia, seharusnya menjadi angin segar bagi para peternak lokal. Pasalnya, pemasok susu itu digadang-gadang akan menggaet peternak dalam negeri.

Sehingga lewat program ini, juga menjadi langkah awal untuk bagaimana meningkatkan produktifitas susu segar itu dari peternak lokal.

"Kita sangat bersemangat untuk ikut mensukseskan program pemerintah yang akan datang. Dan ini sudah kita realisasikan, kita sudah merintis pilot projek di salah satu kabupaten di Indonesia," kata dia.

Ketua Koperasi Samesta, Ruslan, mengaku turut merasakan dampak dari program yang dihadirkan itu. Sejauh ini, peternak di tempatnya mampu memproduksi susu segar hingga 25 liter per harinya. Selain itu produksi susu yang dihasilkan mengalami peningkatan dengan kualitas yang juga lebih baik.

"Jika nanti khususnya di DIY ini (digandeng) terkait kebutuhan susu pasti akan disuplai dari koperasi koperasi setempat. Dan kami siap untuk mensuplai program pemerintah tadi dengan catatan kami juga membutuhkan tambahan populasi (ternak). Jangan sampai nanti dengan ada program pemerintah seperti itu menggangu pasok kami yang sudah terjalin," tandasnya.

(M Wulan)