Konten Media Partner

Pria Asal Bandung Rakit Vespa Menggunakan Bahan Limbah Kayu

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pria Asal Bandung Rakit Vespa Menggunakan Bahan Limbah Kayu
zoom-in-whitePerbesar

Ada yang membuat berbeda dengan gelaran Indonesian Scooter Festival (ISF) 2018 di Jogja Expo Center. Pria asal Bandung, Jawa Barat ini membuat dan merakit Vespa miliknya menggunakan bahan dari limbah kayu.

Pemilik Vespa unik itu bernama Edi Ashari seorang pendiri Best Wood Art yang beralamat di Kampung Andir, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

"Bahan-bahan membuat dan merakit Vespa ini saya menggunakan limbah-limbah pensil," kata Edi saat ditemui kumparan.com/tugujogja di JEC Yogyakarta, Minggu (23/9).

Edi yang kesehariannya menjadi driver ojek online di Bandung mengaku menyelesailan proyeknya ini kurang lebih 3 tahun mulai tahun 2015 hingga 2018.

"Kalau lagi suntuk buat ini (Vespa) ya biasa jadi sopir online aja, buat hiburan," kata Edi.

Vespa yang mirip dengan seri Douglas 1956 ini mulai dari bamper, jok, setang, velk, hingga standar kaki berbalutkan limbah pensil. Edi mendapatkan limbah tersebut berasal dari pabrik yang tidak jauh dari kediamannya.

Dalam merangkainya, Edi menerapkan sistem puzzle dengan menyambung ujung demi ujung potongan limbah tersebut. Dengan cara itu maka akan mendapatkan hasil yang maksimal, tapi untuk menempelnya harus berhati-hati.

"Kalau salah dikit aja pasti harus ngulang dari awal, makanya harus hati-hati," ungkapnya.

Edi mengakui paling sulit dalam pengerjaannya yakni membalutkan kayu pada mesin. Sebab, rangkaian mesin memiliki lekukan yang mana kayu memiliki permukaan rata dan datar. Caranya, ia memotong kecil-kecil agar bisa pas ditempelkan di mesin.

"Yang orisinil dari vespa kayu ini hanya mesin, shockbreaker sama poroknya itu. Kalau untuk mengkilatnya, kayunya ini di tumpahin lilin setelah itu di-coating," tuturnya.

Namun, Ia tidak berminat untuk menjual karyanya itu walaupun pernah ditawar dengan harga fantastis oleh kolektor Venezuela sebesar 1,9 miliar. Sebab, kolektor tersebut diketahui tidak menghargai karya seni.

"Saya dengar dari teman kalau kolektor itu tidak menghargai seni, dibeli terus dihancurkan, lebih baik saya jual 5 juta yang penting bisa dihargai," paparnya.

Ia saat ini sedang memikirkan akan memasukkan karya uniknya itu ke dalam museum untuk bisa dinikmati oleh banyak orang.

"Antara museum Merpati Motor Jogja atau Museum Geologi Bandung, soalnya pemilik museum dua-duanya pecinta Vespa juga," ujarnya. (Nadhir Attamimi/adn)