Puncak Merapi Alami Perubahan Bentuk Berupa Inflasi

Badan Penelitian dan Pengembangan Tehnologi Kegunungapian (BPPTKG) Yogyakarta mencatat puncak Merapi mengalami deformasi (perubahan bentuk). Deformasi Gunung Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan Electronic Data Monitoring (EDM) mulai menunjukkan perubahan berupa inflasi (penaikan permukaan tanah).
Meski terjadi inflasi, namun BPPTKG mencatat skalanya masih terhitung kecil (<1 cm/hari). Inflasi tersebut terjadi di sektor Barat Laut, sedangkan deformasi dengan menggunakan GPS belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida mengatakan, pengukuran EDM periode 17 hingga 23 Agustus 2018 untuk baseline RB1 (Barat Laut) menunjukkan pemendekan nilai jarak tunjam sebesar 3 cm atau 0,4 cm/hari, sedangkan baseline RK2 di sektor selatan masih berfluktuasi dengan rata-rata jarak tunjam sebesar 6506,94 meter.
"Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,21 meter," ungkapnya di Yogyakarta, Sabtu (25/8/2018).
Hanik menambahkan, secara umum cuaca puncak Merapi cerah terjadi pada pagi dan malam hari, siang dan sore hari berkabut. Asap teramati berwarna putih, tipis, dengan tekanan gas lemah. Tinggi maksimum 50 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang pada tanggal 22 Agustus 2018.
Berdasarkan pengambilan foto menggunakan drone yang menunjukkan adanya material baru yang kemudian dipastikan sebagai kubah lava baru paska letusan 2010. Volume kubah lava per 23 Agustus 2018 sebesar 23.000 m3, dengan pertumbuhan rata-rata 2.700 m3/hari.
"Saat ini kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah yaitu di bawag 20.000 m3/hari," tambahnya.
Hanik menuturkan, analisa morfologi berdasarkan foto dari berbagai sektor menunjukkan tidak terjadi perubahan morfologi sekitar puncak. Namun aktivitas kegempaan masih saja terus terjadi.
Dalam minggu ini kegempaan Gunung Merapi tercatat 46 kali gempa Hembusan (DG), 12 kali gempa Vulkano-Tektonik dangkal (VTB), 29 kali gempa Fase Banyak (MP), 64 kali gempa Guguran (RF), 52 kali gempa LF dan 40 kali gempa Tektonik (TT). Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, kegempaan pada minggu ini relatif lebih intensif dari minggu sebelumnya terutama untuk gempa LF, RF dan DG.
Sementara Emisi SO2, dalam minggu ini pengukuran DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy) menghasilkan nilai rata-rata emisi SO2 puncak Gunung Merapi sebesar 77,33 ton/hari, dinilai masih dalam kisaran normal.
"Dan pada minggu ini tidak terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi," paparnya. (erl/adn)
