Konten Media Partner

Raja dan Ratu Belanda Disambut Tarian Beksan Lawung Ageng di Keraton Yogyakarta

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tarian Beksan Lawung Ageng yang menjadi penyambut bagi kedatangan Raja Wilem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti Belanda di Yogyakarta pada Rabu (11/3/2020). Foto: bfn
zoom-in-whitePerbesar
Tarian Beksan Lawung Ageng yang menjadi penyambut bagi kedatangan Raja Wilem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti Belanda di Yogyakarta pada Rabu (11/3/2020). Foto: bfn

Tarian Beksan Lawung menjadi penyambut bagi kedatangan Raja Wilem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti Belanda di Yogyakarta pada Rabu (11/ 3/2020). Keduanya beserta rombongan akan bersilaturahmi dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarga.

Dalam acara tersebut, tampak beberapa penari berbaju adat dengan membawa tombak menari dengan begitu lincah mengikuti alunan musik gamelan. Mereka terlihat bergerak dengan formasi unik dan gerakan yang menggambarkan khas tarian perang.

"Beksan Lawung merupakan tarian yang diciptakan oleh Raja Hamengku Buwono I," ungkap MC acara.

Beksan Lawung Ageng sendiri merupakan tari yang menggambarkan adu ketangkasan prajurit bertombak. Tarian ini diciptakan oleh Hamengku Buwono I yang terinspirasi dari aktivitas watangan. Melansir dari situs Kraton Jogja, kegiatan watangan merupakan aktivitas berkuda.

"Watangan adalah latihan ketangkasan berkuda dan memainkan tombak yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem Prajurit pada masa lalu" seperti yang dikutip di situs Kraton Jogja pada Rabu.

Ratu dan Raja Belanda di Keraton Yogyakarta Fiti: bfn

Dalam kegiatan berkuda itu seorang prajurit akan berkuda sambil membawa tombak berujung tumpul yang disebut lawung. Lawung tersebut kemudian digunakan untuk menyerang dan menjatuhkan lawan. Perlombaan ini dahulu diadakan di Alun-Alun Utara dengan diiringi gamelan Kiai Guntur Laut yang memainkan Gendhing Monggang.

Terispirasi dari aktivitas watangan itulah tercipta tarian Beksan Lawung Ageng. Tarian itu menyorot pada ketangkasan dalam bermain tombak, sama seperti suasana pada saat watangan berlangsung. Gerakan-gerakannya mengandung unsur heroik, patriotik, dan berkarakter maskulin.