Rebutan Kupat Jembut Jadi Tradisi Syawalan Khas Pedurungan Semarang

Tiap daerah punya tradisinya masing-masing untuk mengungkapkan rasa syukur bulan Syawal. Ada tradisi unik yang dilakukan warga Pedurungan, Semarang untuk mengungkapkan rasa syukur itu. Adalah Rebutan Kupat Jembut.
Jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jembut memiliki makna rambut kemaluan. Mungkin namanya terkesan porno, tapi maknanya tidak berkaitan secara harfiah dari kata ‘jembut’ itu sendiri. Sebenarnya, ketupat ini bernama Kupat Tauge. Hanya saja, masyarakat zaman dulu memelesetkannnya menjadi Kupat Jembut.
Munawir (45), salah satu tokoh masyarakat di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang, mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Di mana kala itu, warga asli Jaten Cilik telah kembali ke kampung halamannya usai perang dunia kedua.
“Sudah ada dari tahun 1950-an. Warga habis pulang setelah ngungsi karena perang dunia (kedua),” ujarnya, Rabu (12/6/2019)
Kupat ini akan dibagikan oleh warga tanpa menggunakan opor. Selain itu, penyelenggaraannya pun tidak langsung saat Hari Raya Idul Fitri, tetapi digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri tiba.
“Itu (Kupat Tauge) simbol dari kesederhanaan. Jadi adanya ya cuma tauge, lombok, dan kelapa. Menyampaikan Lebaran Cilik (Syawalan) nggak harus pakai opor kok,” ungkapnya
Syawalan ini memang berbeda dengan syawalan di daerah lain. Pasalnya, sasaran dari Rebutan Kupat Jembut ini adalah anak-anak. Walaupun sebenarnya, orang dewasa pun juga bisa mendapatkan Kupat Tauge.
Sayangnya, tradisi ini sempat berhenti dirayakan selama 2 tahun. Munawir mengungkapkan kala itu sedang ramai-ramainya Partai Komunis Indonesia (PKI). Terkait penamaan tradisi, ia menyebutkan bahwa ada bermacam-macam sebutan.
“Di kampung ini kan religius, jadi nyebutnya Kupat Tauge. Tapi ada juga yang nyebutnya lain. Sebutannya macam-macam,” kata Munawir.
Salah seorang warga menuturkan bahwa tradisi ini sudah diketahui oleh seluruh warga asli Kampung Jaten Cilik. Ia membeberkan bahwa tradisi ini tidak pernah sepi peminat, apalagi anak-anak.
“Rame banget mas ini tiap tahun. Anak-anak rebutan kupatnya. Ada yang dikasih uang di dalamnya biar anak-anak seneng,” kata Wati (40), warga Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah. (kim/adn)
