Sambut Wisatawan, Puluhan Hotel di Kota Jogja Bersih-bersih Kawasan Malioboro
·waktu baca 3 menit

Penurunan PPKM menjadi level 3 disambut baik dan antusias oleh berbagai pihak di Kota Yogyakarta. Para pelaku ekonomi dari berbagai sektor mulai menyiapkan dan berbenah diri untuk menyambut peningkatan jumlah wisatawan karena objek wisata yang rencananya akan segera dibuka, salah satunya dari sektor perhotelan.
Ada 31 hotel di Yogyakarta mengadakan kegiatan bersih-bersih di sekitaran Malioboro. Salah satu hotel yang berpartisisasi dalam kegiatan tersebut ialah Grand Inna Malioboro.
“Jadi kegiatan ini, awalnya merupakan inisiatif kami bersama, kira-kira apa yang dapat kita lakukan nih untuk Malioboro. Kemudian melihat fasilitas prokes yang kurang terpelihara kami bersama-sama akhirnya memutuskan untuk mengadakan kegiatan ini,” Ungkap Ni Komang Darmiati, General Manager Grand Inna Malioboro.
Fokus pada kegiatan bersih-bersih tersebut tidak hanya pada sampah, tetapi juga perbaikan fasilitas seperti wastafel yang mengalami kerusakan di kawasan Malioboro.
“Kami melihat fasilitas di Malioboro, terutama wastafelnya banyak mengalami kerusakan, seperti tidak ada air, tidak ada sabun atau keran airnya yang rusak,” tambahnya.
Acara yang diselenggarakan oleh IHGM (Indonesian Hotel General Manager) dan IHGMA (Indonesian General Manager Association) ini juga didukung oleh UPT Pengelolaan sanggar Budaya dan pemerintah Kota Yogyakarta. Tidak hanya Grand Inna Malioboro, kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai hotel dari seluruh Yogyakarta.
“Kegiatan ini diikuti oleh seluruh hotel yang ada di Yogyakarta, totalnya ada 31 hotel yang berpartisipasi,” jelas Agus Budiono selaku ketua IGHM DPD kota Yogyakarta.
Dengan adanya kegiatan bersih-bersih Malioboro ini, pihak terkait berharap bahwa Yogyakarta akan menjadi kota yang sektor pariwisatanya semakin maju. Meskipun pandemi masih terus berlangsung diharapkan kita mampu untuk hidup berdampingan dengannya.
“Melihat Jogja sekarang yang telah memasuk PPKM level 3, maka kita juga perlu mengantisipasi dan waspada apabila sewaktu-waktu terjadi pelonjakan wisatawan akibat pembukan kembali objek wisata,” ungkap Heriadi Baim, ketua DPD IGHMA kota Yogyakarta.
Tidak hanya IGHM dan IGHMA, PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) juga ikut berpartisispasi dalam acara bersi-bersih ini. Dedi selaku ketua PHRI mengungapkan bahwa dengan adanya penurunan level PPKM menjadi waktu yang tepat untuk sektor pariwisata mempersiapkan diri.
“Sudah saatnya kita berbenah diri, sehingga jika wisatawan datang kita sudah siap menerima” ungkapnya.
Penegakan protokol kesehatan merupakan salah satu dari sekian cara yang telah dilakukan baik oleh pihak pemerintah, perhotelan, pengelola resto hingga pemerintah daerah. Ikhwanto selaku Kepala UPT Pengelola Sangar Budaya Kota Yogyakarta juga berharap dengan adanya penegakan protokol kesehatan ini selain mampu untuk menjamin kesehatan juga membangun kepercayaan masyarakat dan wisatawan bahwa Kota Yogyakarta merupakan kota wisata yang aman dikunjungi.
“Sekarang para pengunjung bergeser orientasinya, kalau dulu lebih ke mass tourism saat ini lebih condong ke quality tourism. Jadi orang-orang akan melihat dulu bagaimana tempat yang akan mereka kunjungi, keamanannya, kebersihannya juga. Kegiatan bersih-bersih Malioboro ini juga dapat dikatakan sebagai upaya kami bersama untuk membangun kepercayaan wisatawan terhadap kota Yogyakarta,” Ujarnya. (Syiva)
