Satu Warga di Gunungkidul Positif COVID-19

Satu orang warga Gunungkidul yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) meninggal dunia. Satu PDP tersebut berasal dari Kecamatan Wonosari dan meninggal hari Selasa (24/3/2020) sekitar pukul 16.30 WIB ketika dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
Selain PDP yang meninggal, pasien positif corona di wilayah kabupaten Gunungkidul pun akhirnya terdeteksi. Data terakhir dari Pemkab Gunungkidul menyebutkan jika seorang warga Kecamatan Ponjong dinyatakan positif COVID-19.
Berdasarkan data pemerintah DIY, pasien tersebut yang positif COVID-19 berjenis kelamin laki-laki berusia 55 tahun yang bersangkutan kini dirawat di RSUD Wonosari. Pasien ini merupakan pasien pertama di Gunungkidul yang dinyatakan positif COVID-19.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawati mengungkapkan ada warga Wonosari yang sebelumnya dinyatakan PDP dan dirawat akhirnya meninggal dunia. Sementara seorang warga Ponjong memang positif Corona setelah pihaknya mendapat konfirmasi dari pihak provinsi.
"Hingga pukul 14.00 WIB, setidaknya ada 293 orang warga Gunung Kidul yang masuk dalam kategori orang dalam pemantauan (ODP)," ujar Dewi, Rabu (25/3/2020) ketika dikonfirmasi melalui nomor pribadinya.
Dewi menyebutkan, untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) saat ini sudah ada 8 orang. PDP tersebut tersebar di 5 Kecamatan masing-masing Wonosari 3 orang, Karangmojo 2 orang, Paliyan 1 orang, Saptosari 1 orang satu orang lagi berasal dari luar wilayah Gunungkidul.
Dewi menyebutkan dari 18 kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Gunungkidul hanya Kecamatan Purwosari saja yang tidak ada warga masuk status ODP, PDP ataupun positif Corona. Sementara untuk ODP terbanyak berada di wilayah kecamatan Karangmojo karena jumlahnya mencapai 86 orang.
Untuk kecamatan dengan PDP terbanyak adalah Kecamatan Wonosari yaitu 3 orang disusul oleh Karangmojo 2 orang dan Kecamatan Ponjong, Paliyan, Saptosari serta luar wilayah masing-masing 1 orang. Menurutnya kemungkinan bertambahnya ODP tersebut merupakan sebuah kepastian pasalnya banyak warga Gunungkidul yang datang dari zona merah.
"Mereka mudik dan mengalami gejala gangguan pernapasan," tambahnya.
Berkaitan dengan kepastian dirawatnya pasien positif corona tersebut sampai saat ini Dewi masih belum memaparkan riwayat yang bersangkutan. Karena begitu mendapatkan kabar dari provinsi terkait dengan adanya satu pasien yang positif corona dirinya langsung menghadap Bupati.
"Maaf baru rapat dengan bupati," ujar Dewi.
Kasus virus corona di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ini seolah menjadi momok bagi warga. Di kecamatan Saptosari Gunungkidul ada seorang warga harga yang terpaksa harus dijemput oleh petugas Puskesmas dengan peralatan lengkap karena warga sekitar tidak bersedia mengantarkannya ke Puskesmas ataupun rumah sakit.
"Terkait positifnya atau tidak kami belum tahu," ujar Kepala Desa Ngloro Kecamatan Saptosari, Hery Yulianto.
Hanya saja, Hery menyebutkan jika warga yang sakit tersebut baru saja pulang dari Genuk, Semarang Timur yang notabene merupakan zona merah virus corona. Begitu sampai di rumah, warga tersebut melarang keluarganya ataupun sanak saudaranya untuk mendekat bahkan kontak fisik. Barang bawaannya termasuk masker juga langsung dibakar sendiri. Warga menjadi takut sehingga terpaksa harus menghubungi pihak Puskesmas.
Kepada keluarganya, warga tersebut mengaku telah menderita gejala demam tinggi 4 hari yang lalu yaitu ketika masih berada di Semarang Timur. Namun hari Selasa lalu, ketika yang bersangkutan tiba di desa Ngloro, kondisinya menurun karena mengaku tenggorokannya sakit dan demam tinggi.
