Konten Media Partner

Selokan Mataram: Penyelamat Warga Yogyakarta dari Kerja Paksa

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selokan mataram. Foto: dok. Tugu Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Selokan mataram. Foto: dok. Tugu Jogja.

Warga Yogyakarta pasti sudah tak asing lagi dengan Selokan Mataram. Saluran Mataram atau yang lebih dikenal oleh warga Yogyakarta sebagai Selokan Mataram adalah selokan yang berada di bagian utara Yogyakarta dan memanjang dari barat ke timur menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak. Selokan Mataram mempunyai nilai sejarah yang penting bagi warga Yogyakarta. Tak hanya itu, Selokan Mataram ternyata juga mempunyai fungsi lain selain sebagai saluran irigasi dan pengairan sawah di Yogyakarta.

Rupanya, fungsi lain dari Selokan Mataram adalah untuk menghindari kerjaan paksa atau romusha yang dicanangkan oleh Jepang, kala masa penjajahan. Ketika itu, Jepang sedang gencar-gencarnya melakukan romusha untuk melawan sekutu di Pasifik. Banyak masyarakat Indonesia yang ditarik Jepang untuk melakukan kerja paksa dengan diiming-imingi harta dan kebebasan.

Theresiana Ani Larasati dalam jurnalnya yang berjudul Fungsi Selokan Mataram bagi Daerah Istimewa Yogyakarta menemukan, bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengusulkan pada Jepang agar romusha yang berasal dari Yogyakarta dapat bekerja di daerah Yogyakarta sendiri.

Beliau menyampaikan bahwa Yogyakarta adalah daerah yang kering. Hasil bumi yang dijadikan andalan hanyalah singkong yang diolah menjadi gaplek. Salah satu usulan berharga beliau adalah usulan proyek pembangunan saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak. Melalui pengaruhnya yang kuat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyampaikan kepada Jepang tentang keadaan wilayah Yogyakarta. Ia menyebutkan bahwa kondisi penduduk dan areal pertaniannya sangat memprihatinkan karena masalah pengairan. Diharapkan dengan keberadaan sarana pengairan yang memadai akan diperoleh hasil pertanian yang baik sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi Jepang.

Diplomasi Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuahkan hasil positif. Jepang menyetujui pembangunan kanal untuk sarana pengairan yang pada zaman kolonial Jepang dikenal dengan nama Kanal Yoshiro, dan kini dikenal dengan nama Selokan Mataram. Hal ini dapat mengurangi penderitaan dan korban jiwa pada para pekerja romusha dan memberi manfaat untuk wilayah Yogyakarta, khususnya di bidang pertanian. Selokan Mataram kemudian dibangun pada masa penjajah Jepang tahun 1944 dengan panjang selokan sepanjang 30,8 km dari Ancol hingga Kalasan serta mengairi areal pertanian seluas 15.734 ha, pada waktu itu.

Namun seiring perkembangan zaman, Selokan Mataram tidak hanya dipakai sebagai saluran irigasi bagi pertanian. Chandra Bagus Wijayanto dalam skripsinya yang berjudul Studi Ekonomi Politik di Selokan Mataram pada Tahun 2018 meneliti, bahwa Selokan Mataram digunakan untuk berbagai hal antara lain sebagai tempat edukasi, sebagai tempat mandi dan mencuci bagi sebagian masyarakat di sekitar Selokan. Selain itu, selokan juga dimanfaatkan dan dibangun gardu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), salah satunya yang terletak di desa Bligo, kecamatan Ngluwar, kabupaten Magelang, dan mampu memberikan suplay listrik bagi sebagian masyarakat di sekitar Selokan Mataram, khususnya di desa Bligo. Adapun kendala yang dihadapi adalah sampah serta limbah di Selokan Mataram.

Pipin Kusumawati dkk. dalam penelitiannya yang berjudul Potensi Selokan Mataram: Ulasan Keadaan Fisik dan Kualitas Airnya meneliti Kualitas air juga menunjukkan bahwa air Selokan Mataram mengalami pencemaran, baik fisik dan mikrobiologi yang berasal dari limbah manusia. Keadaan kualitas air yang rendah ini kemungkinan dipicu oleh keadaan musim penghujan ketika penelitian ini berlangsung sehingga menimbulkan bias terhadap hasil uji kualitas airnya. Dengan demikian perlu kiranya dilakukan penelitian kualitas air Selokan Mataram pada musim kemarau untuk mengetahui kualitas air Selokan Mataram yang sebenarnya sehingga dapat dinilai kelayakannya untuk dibukanya suatu destinasi wisata tirta. (Ayu)